8 Legenda dari Sumatra Selatan

Posted on

Mendengar kata Sumatra Selatan, sekilas yang terlintas adalah nama-nama makanan khasnya seperti pempek dan nama wisatanya seperti Sungai Musi. Sebelum menjadi provinsi dengan segala keunikan dan kekhasannya, Sumatra Selatan merupakan daerah yang kaya akan legenda daerah. Bukan hanya terkenal di Sumatra Selatan sendiri, legenda-legenda itu juga telah banyak dikenal oleh masyarakat di Indonesia. Nah, untuk kamu yang masih belum familiar dengan legenda dari Sumatra Selatan, simak 8 legenda dari Sumatra Selatan berikut.

Asal Mula Nama Palembang

Asal Mula Nama Palembang
Sumber: pinterest.co.uk

Kota Palembang pada zaman dahulu bukanlah disebut sebagai Palembang, melainkan Lembang. Dahulu, di daerah Lembang banyak sekali pedagang yang singgah dikarenakan lokasinya yang dekat dengan sungai. Dalam bahasa Melayu tua, nama daerah Lembang ini diartikan sebaga dataran rendah yang dikelilingi dan digenangi air.

Suatu ketika, Sang Sapurba, putra dari raja Iskandar Zulkarnain yang mengalami kecelakaan, ditolong oleh Putri Ayu Sundari yang saat itu tinggal di Lembang. Setelah beberapa waktu, mereka pun menikah dan banyak sekali orang yang mulai berdatangan ke Lembang. Lembang pun menjadi kota yang cukup terkenal dan setiap orang yang akan datang ke Lembang, biasanya akan berujar pergi ke Palembang. Ternyata, dalam bahasa Melayu tua, ‘pa’ mempunyai arti tempat atau lokasi. Dikarenakan hal ini, lambat laun nama Lembang berubah menjadi Palembang dan kota ini pun sampai sekarang menjadi kota tertua di Indonesia.

Raden Alit dan Dayang Bulan

Radet Alit dan Dayang Bulan
Sumber: histori.id

Cerita Raden Alit dan Dayang Bulan begitu melegenda di Sumatra Selatan. Alkisah, Raja Ratu Ageng menikah dengan Dewi Kahyangan lalu mereka tinggal di langit. Mereka dikaruniai 3 anak yaitu Raden Alit, Raden Kuning, dan Dayang Bulan. 20 tahun kemudian, Ratu Ageng mengajak keluarga mereka kembali ke bumi.

Sayangnya, saat tinggal di bumi, Dayang Bulan meninggal digigit oleh ular. Namun, Raden Alit dan Ratu Kuning tidak percaya akan hal itu, mereka percaya jika Dayang Bulan diculik oleh seseorang. Mereka meminta izin kepada ayah mereka Ratu Ageng untuk mencari Dayang Bulan. Dalam pencarian itu, Raden Alit dan Raden Kuning bertemu dengan Serincung Dabung, si ahli nujum. Menurut penerawangan Serincung Dabung, Dayang Bulan memang benar diculik oleh Malih Hitam dan sekarang ada di Negeri Salek.

Untuk mencari di mana Negeri Salek, mereka semua berpencar. Saat mulai berpencar, Raden Alit bertemu dengan Raja Jin yang ternyata mempunyai kekuatan luar biasa. Ia meminta tolong pada Raja Jin untuk menemukan dan menolong Dayang Bulan. Raja Jin bersedia tetapi ia memberikan syarat agar Raden Alit mau menikahi anak Raja Jin yang bernama Salipuk Jantung Pandan. Ia pun bersedia asal Dayang Bulan selamat.

Akhirnya, mereka berhasil menemukan Dayang Bulan dan melempar Malih Hitam ke langit untuk dikerangkeng. Dayang Bulan beserta kakak-kakaknya pun kembali pulang. Sementara itu, beberapa hari setelahnya, Raden Alit dan Salipuk Jantung Pandan menikah dan berbahagia.

Pulau Kemaro

Pulau Kemaro
Sumber: triptus.com

Di daerah dekat Sungai Musi, hidup seorang putri raja bernama Siti Fatimah. Seperti halnya putri raja lainnya, Siti Fatimah begitu cantik serta perangainya sangat baik. Datanglah seorang saudagar dari Cina yang juga anak dari Raja di sana bernama Tan Bun Ann ke daerah tersebut. Tan Bun Ann tinggal beberapa bulan dan ketika Ia bertemu dengan Fatimah, ia langsung jatuh hati.

Dengan tekad yang kuat, Tan Bun Ann memutuskan untuk melamar Siti Fatimah. Sang raja menyetujui hal tersebut, tapi ia mengajukan syarat yaitu membawakan 9 guci berisi emas. Tan Bun Ann menyanggupi syarat tersebut dan meminta bantuan dari ayah ibunya. Selang beberapa waktu, kapal yang mengangkut guci tersebut tiba di pinggiran Sungai Musi. Tan Bun Ann pun mengecek apakah guci-guci tersebut benar-benar berisi emas. Namun, betapa kagetnya ketika yang Ia lihat justru sawi-sawi busuk yang ada di dalamnya.

Tan Bun Ann kecewa dan membuang semua guci itu ke sungai. Saat guci yang terakhir akan dilempar, Ia tersandung dan gucinya pecah serta terdapat emas di bawah sawi busuk itu. Ia menyesal telah membuang semua guci. Akhirnya, Ia mencebur ke sungai untuk kembali mengambil guci-guci tadi. Sedangkan, Siti Fatimah mendengar kabar kalau Tan Bun Ann terjun ke sungai, Ia pun menyusul dan mengatakan kepada orang-orang yang Ia temui, jika ada gundukan tanah di pinggiran Sungai Musi, maka itu adalah kuburan Fatimah.

Setelah beberapa hari, Siti Fatimah tak kembali dan muncul lah gundukan tanah tersebut. Lalu, oleh orang setempat dinamai dengan Pulo Kemaro atau Pulau Kemarau dikarenakan pulau tersebut tak pernah tergenang air meski air sungai sedang tinggi.

Putri Kemarau

Putri Kemarau
Sumber: youtube.com

Putri Kemarau merupakan nama dari seorang raja yang dilahirkan pada musim kemarau. Pada suatu waktu, terjadi kemarau yang sangat panjang di kerajaan tersebut. Rakyat dan anggota kerajaan begitu risau dan menderita akibat kekeringan ini. Sang raja pun memutuskan untuk meminta bantuan orang sakti mengenai cara agar bisa lepas dari kekeringan ini.

Tidak disangka-sangka, orang sakti itu memberikan petuahnya agar raja mengorbankan seorang gadis untuk mencebur ke laut. Di antara seluruh gadis yang ada di seluruh kerajaan, sayangnya tak ada satu pun yang bersedia. Putri Kemarau tiba-tiba mengusulkan diri, dia dengan ikhlas akan mengorbankan dirinya demi menghentikan musim kemarau. Dengan berat hati, raja mengikhlaskan anaknya dan mengantarkannya ke atas tebing bersama para rakyatnya.

Putri Kemarau lantas menceburkan diri ke laut, dan begitu ajaibnya, hujan langsung turun dengan deras dan musim kemarau telah berakhir. Setelah tiba di kerajaan, sang raja bermimpi jika putrinya masih hidup dan ada di atas tebing. Seketika, raja langsung menuju ke tebing dan melihat anaknya sedang berada di atas batu karang. Betapa bersyukurnya ternyata sang putri masih diselamatkan oleh Tuhan.

Si Pahit Lidah

Si Pahit Lidah
Sumber: pedomanbengkulu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *