7 Legenda dari Aceh yang Harus Diketahui

Posted on

Nanggroe Aceh Darussalam adalah kota yang memiliki berbagai ciri khas mulai dari julukannya sebagai Serambi Mekah hingga terkenal akan tari seribu tangan atau dibiasa disebut tari saman. Namun ternyata, dibalik itu semua terdapat berbagai legenda daerah yang wajib kamu tau. Beberapa diantaranya:

Atu Belah

Atu Belah
Sumber : suaatjeh.blogspot.com

Kisah ini berasal dari desa Takengon, dimana terdapat satu keluarga miskin yang terdiri dari ayah, ibu dan kedua anaknya. Anak pertama biasa dipanggil sulung, gadis itu berusia 7 tahun dan dia memiliki seorang adik yang masih bayi. Hingga pada suatu hari, anak sulung berteriak lapar pada ibunya. Namun sang ibu sibuk merawat adiknya yang masih bayi. Kala itu, bayi tersebut sedang jatuh sakit dan menangis tiada henti.

Anak sulung tidak dapat menahan rasa lapar, dia terus merengek kepada ibunya agar segera memasak untuk dirinya. Sang ibupun menyerah mendengar keluhan bertubi-tubi anak sulung sehingga dia memerintahkan putri sulungnya untuk segera mengambil beberapa belalang di lumbung. Mendengar perintah tersebut, putri sulung segera berlari ke lumbung dan mengambil beberapa ekor belalang untuk disantap. Namun sayang, akibat dirinya terlalu ceroboh, dia lupa menutup kembali lumbung tersebut.

Hingga beberapa saat kemudian, sang ayah pulang. Dia sangat marah melihat pintu lumbung terbuka lebar dan tidak ada satu ekorpun belalang miliknya. Maka dia segera memanggil, membentak, dan memukul istrinya. Sang ibu merasa sakit hati dan lelah menghadapi keadaan rumah sehingga dia berlari menuju atu belah dan meminta batu tersebut menelannya.

Setelah mengucapkan permintaannya, datanglah angin kencang dan ibu tersebut tertelan ke bawah lubang atu belah. Putri sulungnya yang melihat kejadian tersebut hanya bisa menangis. Akibat ketidaksabaran yang dimilikinya, dia harus kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya. Dari kisah ini pula dapat kita ambil kesimpulan bahwa ketidaksabaran dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Putri Naga dan Tuan Tapa

Putri Naga dan Tuan Tapa
Sumber: dmilano.wordpress.com

Semua bermula dari kota Tapaktuan. Dahulu kala terdapat dua ekor naga yang diusir dari Tiongkok karena tidak memiliki keturunan, hingga suatu hari dia menemukan bayi yang mengapung di tengah lautan. Tanpa fikir panjang, mereka segera mengasuh sang anak hingga menjadi dewasa. Anak itu tumbuh menjadi gadis yang cantik. Namun tiba-tiba salah seorang raja asal India datang dan mengakui gadis itu adalah anaknya yang hilang.

Sang naga sangat marah, mereka tidak mau memberikan anak kesayangannya pada sang raja. Hingga tuan tapa datang menjadi penengah diantara mereka. Sang naga jantan menantang tuan tapa untuk melakukan pertarungan. Hasilnya dialah yang dijemput kematian. Melihat pasangannya mati, naga betina segera menghancurkan pulau yang dihuninya menjadi gagasan pulau-pulau kecil yang kini dinamakan pulau banyak, terletak di Aceh Singkil.

Kisah Sultan Mughayat Syah dan Putri Hijau

Ali Mughayat Syah
Sumber: wawasansejarah.com

Suatu hari sang sultan tiba-tiba melihat sebuah cahaya berwarna hijau dari arah timur. Ternyata cahaya itu berasal dari putri hijau. Sang sultan berniat untuk meminang sang putri, namun pinangan itu ditolak. Sultan sangat marah hingga memerintahkan pengawalnya untuk menyerang wilayah Deli Tua. Sayangnya wilayah itu dikelilingi oleh pohon berduri. Sultan tidak kehabisan ide. Dia memerintahkan para pengawal untuk menembakkan uang agar para penduduk mengambil uang tersebut.

Sesuai ekspektasinya, para warga menebang pohon berduri demi mengambil uang. Sang putri merasa terancam, sehingga penguasa Deli Tua memberi amanat pada sang putri hijau. Bila kelak putri ditawan, tubuhnya tidak boleh disentuh siapapun dan meminta agar dirinya dimasukkan kedalam peti kaca. Dia juga meminta seluruh rakyat Aceh membawa persembahan sebutir telur ayam dan segenggam beras lalu dibuang ke laut. Disaat semua membuang ke laut, putri diperintahkan keluar dari peti kaca dan memanggil Mambang Jazid.

Hingga hari itu tiba, semua berjalan sesuai rencana. Saat dirinya memanggil Mambang Jazid, tiba-tiba keluar naga dari dalam laut diiringi ombak yang besar. Naga itu segera membelah kapal menjadi dua. Sang putri yang masuk kembali ke dalam peti, terapung ditengah lautan. Sang naga mendekati peti itu lalu membawanya ke Selat Malaka. Kejadian itu terjadi dalam hitungan detik sehingga tiada yang bisa mencegahnya. Putri hijaupun selamat dari tawanan Sultan Mughayat Syah.

Mentiko Betuah

Mentiko Betuah
Sumber: Youtube.com

Dahulu kala terdapat anak bernama Rohib. Rohib dibesarkan dengan penuh kemanjaan sehinga dirinya menjadi pemuda manja. Sang raja marah akan perilaku anaknya maka meminta untuk anak itu dibunuh, namun istrinya meminta agar Rohib diusir saja dari kerajaan dengan diberi modal agar dia dapat berdagang. Rohibpun keluar dari kerajaan. Ditengah perjalanan, dia menemukan anak-anak yang sedang melempari burung dengan ketapel. Rohib berjanji jika mereka menghentikan perilaku itu, maka akan diberikan uang.

Dengan cepat anak-anak menghentikan aktivitas kejamnya. Rohib kembali melanjutkan perjalanan dan selalu melakukan hal yang sama. Memberi uang pada orang agar berhenti menganiaya binatang. Tidak dia sadari bahwa modalnya kini telah raib dari genggamannya. Hingga dia beristirahat dibawah pohon. Tiba-tiba datanglah seekor ular besar yang bertanya siapakah Rohib. Seusai mendengar cerita Rohib, sang ular memberikannya hadiah berupa mentiko betuah yang ia keluarkan dari mulutnya.

Sang ular mengatakan bahwa mentiko betuah dapat mengabulkan apapun permintaannya. Hingga Rohib meminta banyak uang dan kembali pulang ke kerajaan. Tapi tiba-tiba barang miliknya dibawa kabur pemilik toko emas, karena dia hendak mengabadikan mentiko menjadi cincin. Rohib segera meminta bantuan pada anjing, kucing dan tikus untuk membawa kembali mentiko betuah.

Mereka berhasil merebut dengan bekerjasama, namun sang tikus berkhianat dengan mengatakan seolah dirinya yang berusaha. Sejak saat itu anjing dan kucing saat membenci tikus.

Kisah Banta Barensyah

Banta Barensyah
Sumber: Ceritaasliindonesia.blogspot.com

Pada zaman dahulu hiduplah janda tua dan anak laki-lakinya yang mulai beranjak dewasa. Mereka hidup sangat kekurangan, saudara mereka saudagar kaya raya namun sangat pelit. Melihat kondisinya yang hidup kesusahan, maka Banta berniat untuk melamar sang putri Terus Mata yang sedang mengadakan sayembara. Dia berfikir hidupnya akan jauh lebih layak jika menikahi keluarga kerajaan. Maka dia meminta izin sang ibu untuk mencari kain tenun emas dan suasa.

Akhirnya Banta pergi bermodalkan daun talas dan suling. Kedua benda itu sangat bermanfaat baginya. Daun talas dia jadikan pengganti perahu, sedangkan alunan musik indah dari suling menggantikan fungsi uang. Hingga Banta berhasil mendarat di desa pembuat tenun. Dia mencari ke seluruh penenun, namun tidak ada yang bisa memberikannya karena tidak memproduksi. Satu-satunya yang memiliki barang tersebut adalah kepala desa setempat. Banta membayar barang yang dia inginkan dengan alunan indah dari suling miliknya. Kini benda tersebut sudah menjadi milik Banta.

Malang nasib Banta, saat diperjalanan pulang barang itu dirampas pamannya yang terkenal pelit. Banta pun terbawa air kesalah satu pesisir pantai. Setelah di asuh beberapa bulan, Banta memohon izin pada keluarga angkatnya untuk kembali ke rumah. Permintaan itu disanggupi. Sesampai di rumah, sang ibu menatap Banta dengan penuh suka cita akhirnya anaknya kembali dengan keadaan sehat. Banta menceritakan semua kejadi tersebut. Namun sang ibu mengatakan hal itu tidak perlu dibahas lagi karena terlambat.

Baca juga: Tari Adat Aceh

Maka dengan cepat Banta berlari menyaksinan pernikahan mereka, Banta tidak punya cukup bukti sehingga hanya dapat berdoa. Tiba-tiba datanglah seekor burung elang yang mengatakan bahwa kain tenun emas dan suasa itu milik Banta. Sontak semua heran menatap heran. Sang paman merasa malu dan berusaha pergi melalui jendela. Sayang dia terhalang kakinya hingga terjatuh dari jendela dan tewas di tempat.

Setelah kejadian itu Banta dan ibunya menjadi keluarga kerajaan. Tidak lama kemudian sang ayah putri Terus Mata melimpahkan tahtanya kepada Banta karena dirinya kini telah menua.

Pangeran Amat Mude

Amat Mude
Sumber: wadaya.rey1024.com

Raja dan ratu negeri Alas sudah lama mendambakan keturunan, namun sangat sulit mendapatkannya. Hingga suatu hari sang putri merasa mual, setelah diperiksa tabib ternyata dirinya hamil. Seluruh kerajaan dan rakyat merasa gembira. Saat hari kelahiran tiba, sang raja mengundang seluruh makhluk seperti rakyat, hewan dan makhluk halus untuk turut merayakan kelahiran putranya yang diberi nama Amat Mude.

Saat Amat Mude berusia 10 tahun, sang raja meninggal dunia. Kerajaan bingung menggulirkan tahta kepada siapa, sementara anaknya masih belia. Hingga sang ratu menetapkan adik sang raja (paman Amat Mude) yang menjadi raja sementara. Sang paman terbuai atas tahta yang dimilikinya sehingga dia bertekad ingin menjadi raja selamanya. Maka sang paham memerintahkan para prajurit membuang ratu dan anaknya di hutan.

Di hutan mereka tinggal di gubuk, namun Amat Mude tidak pernah mengeluh. Dia bertugas mencari ikan. Tidak diduga saat sang ratu membersihkan tubuh ikan, dia selalu menemukan emas dalam tubuh ikan. Setiap hari Amat Mude mencari ikan dan terus menjual emasnya hingga mereka menjadi hidup berkecukupan dan dermawan. Mendengar kehidupan mereka yang sudah baik, sang paman memanggil Amat Mude ke kerajaan. Paman berkata bahwa jika Amat Mude berhasil memetik sebutir kelapa gading maka dia berhak menjadi raja, jika gagal gelar raja akan selamanya menjadi milik pamannya.

Amat Mude menyetujui dan segera bergegas ke pulau untuk mengambil kelapa gading. Saat ditengah perjalanan dirinya dihadang oleh ikan besar, naga dan buaya. Mereka bertanya siapakah orang yang berani melewati wilayahnya. Mereka terkejut bahwa pemuda dihadapannya adalah Amat Mude, bayi yang dulu disambut oleh seluruh makhluk termasuk 3 hewan tersebut. Berkat kebaikan hati ayahandanya, maka Amat Mude dibantu agar dapat menuju pulau dan diberi cincin yang bisa mengabulkan semua permintaan.

Sesampainya di pulau, Amat Mude bingung bagaimana caranya mengambil kelapa gading. Hingga dia teringat akan cincin pemberian ketiga hewan, dengan cepat dia bisikkan keinginannya. Tiba-tiba tubuhnya dengan mudah memanjat pohon dan memetik kelapa gading. Amat Mude lekas kembali ke kerajaan. Sang paman sangat heran melihat Amat Mude bisa kembali dengan selamat. Sesuai janjinya, kini Amet Muda diangkat menjadi raja.

Dia tidak pendendam, sang paman tetap diberi izin tinggal di kerajaan. Namun sang paman malu atas kelakukannya sehingga pergi dari kerajaan. Kini Amat Mude menjadi raja yang arif dan dermawan, persis seperti mendiang ayahandanya.

Sepasang Batu di Tepi Danau Laut Tawar

Sepasang Batu di Tepi Danau
Sumber: dongengceritarakyat.com

Pada zaman dahulu di Aceh tumbuhlah seorang gadis cantik. Parasnya yang anggun membuat semua orang ingin meminangnya, hingga akhirnya dia di persunting oleh salah satu pemuda. Setelah menikah, gadis itu diminta untuk kembali ke kampung suaminya di seberang lautan. Berat hatinya karena harus meninggalkan desa tercinta serta orang tua, namun walau bagaimanapun kini dia harus berbakti pada suaminya.

Sang gadis berpamitan pada kedua orang tuanya, ayahnya berpesan untuk tidak menoleh ke belakang saat diperjalanan pulang. Gadis itu harus melewati hutan belantara, mendakit bukit dan menyebrangi danau air tawar. Saat dirinya diatas kapal, terdengar suara ibunya memanggil. Dia dilema, harus menoleh menjawab panggilan ibunya atau tetap berpegang pada amanat sang ayah. Akhirnya dia memutuskan untuk menoleh, disaat yang bersamaan badannya mulai menjadi seperti batu. Hal itulah yang dikatakan sang ayah, bahwa dirinya akan berubah menjadi batu jika menengok ke belakang.

Baca juga: Rumah Adat Aceh

Suaminya tidak ikhlas melihat pasangannya berubah menjadi batu sehingga dirinya berdoa agar bisa menjadi batu seperti kekasihnya. Permintaan itu didengar oleh Tuhan sehingga tubuhnya berubah menjadi batu selayaknya sang istri.


Sumber:

Damayanti, Astri. (2010). Kumpulan Legenda Nusantara Favorit. Depok: Penerbit Indria Pustaka.

Leave a Reply