7 Legenda dari Sumatra Utara

Posted on

Tahukah kamu bahwa Provinsi Sumatra = betul. Sumatra = salah Utara tidak hanya terkenal akan keindahan alam serta kemampuan penduduknya dalam bernyanyi, namun disana pula terdapat berbagai macam legenda yang wajib kamu ketahui. Berikut adalah 7 legenda yang terkenal di kalangan masyarakat Sumatra Utara. Yuk simak kisahnya dan petik hikmah dibalik legenda-legenda dibawah ini:

Danau Toba

Kisah fenomenal yang berasal dari pemuda petani yang mendapatkan ikan disungai. Ternyata ikan yang ditangkapnya berubah menjadi seorang putri cantik. Putri cantik tersebut mengatakan bahwa ia dikutuk oleh dewa menjadi seekor ikan, berkat pemuda itu maka kutukan tersebut hilang.

Sebagai ucapan terima kasih, sang putri cantik membantu memasak, membersihkan rumah hingga mencuci baju sang pemuda. Tak ingin difitnah tetangga, maka pemuda tersebut menikahi sang putri cantik. Putri cantik itu menerima pinangan sang pemuda dengan syarat tidak boleh memberitahukan kepada siapapun tentang asal-usul dirinya. Maka merekapun hidup bahagia dan dikaruniai oleh seorang anak laki-laki yang diberi nama Samosir.

Samosir adalah anak yang kuat, berani, dan besar. Dirinya sangat suka makan. Hingga suatu hari, pulanglah sang pemuda tersebut dari sawah. Dirinya sangat kelaparan, namun ketika sampai dirumah ia terkejut karena tidak ada makanan sama sekali akibat Samosir yang melahap semua makanan.

Dirinya emosi dan berkata bahwa Samosir adalah anak dari seekor ikan. Mendengar hal tersebut, sang putri cantik kecewa dan pergi membawa anaknya. Tidak lama kemudian muncullah mata air dan terus menerus mengalir hingga menenggelamkan satu desa. Konon katanya desa tersebut kini berada tepat di danau Toba.

Kampung Tanjung Morawa

Kampung Tanjung Morawa
Sumber: myedisi.com

Munculnya nama Tanjung Morawa sebagai nama salah satu kampung di Sumatra Utara ternyata memiliki kisah dibalik pemberian nama itu. Pada waktu dulu, terjadi pertikaian antara warga kampung Tanjung (Pematang Panjang) dengan warga kampung Talun Kenas. Tidak diketahui apa pula penyebab terjadinya pertikaian itu. Hanya saja, dalam pertikaian tersebut, Kampung Talun Kenas mengalami kekalahan.

Tidak terima dengan kekalahan yang mereka alami, warga Talun Kenas menyusun strategi untuk balas dendam dengan mengirim mata-mata. Saat mata-mata tersebut beraksi, mereka mengalami kelelahan di malam hari dan tertidur di bawah pohon dengan beralaskan daun nyiru yang merupakan daun gatal. Tak ayal, mereka pun merasakan gatal-gatal yang amat sangat dan memutuskan kembali pulang.

Sesampainya di kampung Tanjung, tetua yang mendengar cerita mata-mata itu memutuskan untuk tidak perlu membalas dendam lagi. Mereka menganggap jika gatal-gatal yang dialami oleh mata-mata diakibatkan oleh marahnya (merawa) pohon tersebut. Sehingga, mereka memutuskan untuk berdamai dengan warga Tanjung. Untungnya, warga Tanjung menyambut usulan damai tersebut. Dari cerita ini, kampung Tanjung memiliki nama baru yaitu Tanjung Merawa dan berubah menjadi Tanjung Morawa karena dipengaruh oleh logat orang Belanda yang memasuki kampung.

Pulau Si Kantan

Pulau Si Kantan
Sumber: imajin45i.blogspot.com

Legenda Pulau si Kantan merupakan cerita yang sangat menarik. Ceritanya diawali dengan si Kantan yang tinggal bersama ibunya yang miskin. Suatu malam, ibunya bermimpi menggali tanah di hutan dan menemukan benda yang berharga. Keesokan paginya, si ibu pun mengajak Kantan ke hutan. Tidak diduga, ternyata setelah menggali cukup dalam, mereka menemukan tongkat emas.

Dengan penemuan ini, mereka merasa kalau barang ini bisa menolong mereka dari kemiskinan. Kantan pun meminta izin pada ibunya untuk menjual ke luar kampung dikarenakan orang di kampung sudah pasti tak ada yang mampu membeli barang tersebut. Pengembaraan si Kantan pun sampai di Malaka dan dia tidak sengaja bertemu dengan abdi raja.

Abdi raja itu menawarkan untuk menjual barang itu ke rajanya. Namun, sang raja justru menawarkan si Kantan untuk menikah dengan putrinya dan tinggal di istana. Kantan sangat setuju dengan usul itu. Lalu, setelah mereka menikah, istri Kantan memaksa Kantan untuk mempertemukannya dengan ibunya. Awalnya Kantan enggan menuruti, namun mereka akhirnya tetap berlayar menuju kampung Kantan.

Saat ibu Kantan tahu kalau anaknya akan tiba di pelabuhan, dia pun segera mendatangi Kantan, namun yang dia dapat bukan malah pelukan kerinduan, justru caci makian. Kantan tidak mengakui jika ibunya sudah tua. Ibunya begitu sedih dengan perlakuan Kantan hingga membuatnya memohon pada Tuhan untuk memberikan kutukan pada Kantan. Selepas itu, tiba-tiba terjadi badai yang membuat kapal yang dinaiki Kantan, istri, dan anak buahnya tenggelam ke dasar Sungai Barumun. Selang beberapa hari, muncul pulau di tengah-tengah sungai tersebut, yang kini disebut sebagai Pulau Si Kantan.

Kolam Sampuraga

Kolam Sampuraga
Sumber: wattpad.com

Sebelum menjadi nama sebuah kolam, Sampuraga merupakan nama seorang anak laki-laki. Ia memutuskan untuk merantau ke negeri Mandailing yang begitu terkenal dengan meminta izin pada ibunya. Tak butuh waktu lama, dia pun mendapatkan pekerjaan pertamanya pada seorang saudagar kaya. Sampuraga begitu rajin dalam bekerja sehingga membuat saudagar yang sekaligus majikannya itu menawari Sampuraga untuk menikahi anaknya.

Dengan senang hati, Sampuraga mengiyakan tawaran tersebut. Kabar anaknya yang akan menikah dengan salah satu anak saudagar kaya itu telah sampai ke telingan ibu Sampuraga. Ibunya pun mengumpulkan bekal untuk hadir ke pernikahan itu. Namun, Sampuraga justru membentak-bentak ibunya ketika mendapati ibunya mendekat ke pelaminan.

Ia tidak mengakui ibunya. Si ibu tentu saja sangat murka dan memohon kepada Tuhan untuk menghukum Sampuraga. Permohonan ibunya dikabulkan oleh Tuhan. Hujan deras turun seketika dan menenggelamkan acara pernikahan tersebut. Jadilah tempat tersebut menjadi kolam air panas dan dijuluki kolam Sampuraga.

Simalungun

Kampung Simalungun
Sumber: id.wikipedia.org

Dahulu kala, terdapat tiga kerajaan yang saling bersahabat dan saling tolong menolong satu sama lain. Kerajaan tersebut adalah Kerajaan Tanah Djowo, Kerajaan Silou, dan Kerajaan Raya. Kerajaan Tanah Djowo ini terletak di Kampung Nagur, sementara yang lainnya ada di luar kampung tersebut.

Persahabatan mereka begitu erat bahkan apabila salah satu dari mereka diserang oleh musuh, kedua kerajaan lainnya akan saling tolong menolong membasmi musuh-musuh tersebut. Sayangnya, pada suatu malam, ketiga kerajaan tersebut diserang oleh musuh yang tidak diketahui. Musuh mereka begitu kuat hingga mereka tak dapat menolong satu sama lain.

Para rakyat maupun anggota kerajaan mencoba melarikan diri ke luar kampung dan tibalah mereka di suatu pulau. Hanya saja, jumlah orang yang sanggup melarikan diri pun sedikit. Namun, setelah lama hidup di pulau, mereka mulai menata kehidupan kembali. Suatu waktu, timbul kerinduan untuk menyambangi Kampung Nagur yang telah dijajah itu.

Beberapa orang akhirnya memutuskan untuk menengok kembali kampung mereka dan betapa mengenaskannya justru yang mereka lihat adalah kampung yang sunyi. Hal ini membuat mereka menangis dan tercetus lah nama Simalungun yang berarti sunyi dan sepi.

Danau Lau Kawar

Danau Lau Kawar
Sumber: passgal.blogspot.com

Kisah legenda danau Lau Kawar mulanya berasal dari desa bernama Kawar. Desa tersebut tergolong sebagai desa dengan hasil tani yang melimpah. Pada suatu masa, atas melimpahnya hasil tani mereka, masyarakat desa membuat sebuah perayaan sebagai simbol rasa syukur.

Ditengah perayaan yang begitu menggembirakan itu, ada seorang nenek yang sakit dan terbaring lemas di kamarnya. Anak dan cucunya ikut menghadiri pesta dan tidak tahu menahu jika nenek tersebut sedang terkulai lemas dan kelaparan. Si anak dari nenek sebenarnya ingat jika ibunya belum makan dan berinisiatif menyuruh anaknya (cucu nenek) untuk mengirimkan makanan pada nenek itu.

Akan tetapi, si cucu ternyata memakan hampir semua daging yang dibungkuskan untuk neneknya. Sehingga, saat nenek menerima makanan itu, yang ada hanya sisa-sisa daging dan tulangnya. Atas perlakuan anak dan cucunya ini, si nenek begitu berduka dan memohon agar Tuhan menghukum mereka. Selepas ucapan nenek itu, terjadi gempa bumi, langit tiba-tiba menghitam, serta turun hujan deras. Hujan ini pun menenggelamkan seluruh penduduk desa dan jadilah desa itu menjadi Danau Lau Kawar. Bukan lagi Desa Lau Kawar.

Si Baroar

Legenda si Baroar
Sumber: ceritarakyatnusantara.com

Di Mandailing, Sumatra Utara, Sultan Pulungan yang memimpin kerajaan Huta Bargot menemukan bayi laki-laki saat ia berburu. Bayi tersebut ia serahkan kepada janda bernama Saua yang mendambakan anak sejak dulu. Lantas, bayi itu juga diberi nama si Baroar yang berarti kandang anjing. Alasan pemberian nama itu tidak lain karena Baroar ditemukan di kandang anjing.

Saat Baroar dewasa, siapa sangka ternyata wajah dan perawakannya begitu mirip dengan anak Sultan Pulungan. Kemiripan wajah ini membuat Baroar sering disangka sebagai putra raja. Hal ini tentu membuat Sultan jengkel dan ingin membunuh Baroar. Ia lalu menyuruh anak buahnya untuk membunuh Baroar. Namun, rencana yang telah disusun itu harus gagal karena para anak buah justru membunuh putra raja.

Semakin kesal, raja tetap menyuruh para anak buahnya untuk memburu Baroar. Untungnya, Baroar dan ibu angkatnya tetap bisa menyelamatkan diri meninggalkan kerajaan. Beberapa tahun setelahnya, tersiar kabar jika Baroar mampu mendirikan kerajaan. Banyak yang berpendapat kalau anak turun Baroar adalah orang yang bermarga Nasution.

Batu Gantung Parapat

Batu Gantung Parapat
Sumber: goodnewsfromindonesia.id

Legenda Batu Gantung Parapat ini didasari oleh penolakan seorang gadis yang akan dijodohkan oleh orang tuanya. Orang tua dari si gadis memang tak pernah mendengarkan penolakan anaknya, sehingga hal ini membuat anaknya merasa terluka dan memilih untuk lari ke hutan saat orang tuanya ke ladang. Saking cepatnya si gadis itu berlari, dia tidak sadar kalau dia akan masuk ke lubang. Saat sudah terperosok ke dalam lubang, si gadis menangis tersedu dan berbisik agar batu di dekat lubang itu menutup.

Anjing peliharaan si gadis yang sebelumnya mengikuti si gadis segera lari menuju ke orang tuanya dan menunjukkan kalau gadis itu telah terjatuh dan terimpit batu. Sayangnya, saat orang tuanya mencoba menolong, si gadis tetap tak ingin kembali karena perjodohan itu. Batu itu pun akhirnya tertutup rapat. Setelah terjadi gempa di daerah Danau Toba, munculnya batu yang bergantung menyerupai tubuh manusia.

Legenda Sigale-Gale

Sigale-gale
Sumber: bisniswisata.co.id

Sigale-gale dalam rakyat Samosir dikenal sebagai patung yang bergerak dengan gemulai dan mampu membuat orang yang menontonnya tergelak bahagia. Legenda ini berasal dari seorang raja yang kehilangan anaknya. Kemudian, dia menyuruh seorang ahli pahat untuk membuatkan patung yang mirip dengan anaknya.

Baca juga: Tarian Adat Kalimantan Utara

Sang raja juga meminta kepada Sibaso untuk membuat agar patung tersebut seolah-olah mempunyai kehidupan sehingga dapat bergerak. Dengan adanya patung ini, sang raja menjadi lebih terhibur. Tradisi ini pun berlanjut dimana saat ada seorang yang meninggal, maka patung Sigale-gale ini akan dibuat.


Sumber:

Damayanti, Astri. (2010). Kumpulan Legenda Nusantara Favorit. Depok: Penerbit Indria Pustaka.

Nuralia.L, Imadudin.I. (2009). Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Terpopuler. Bandung: Penerbit Ruang Kata.

Histori.id

Leave a Reply