8 Legenda dari Jawa Tengah

Posted on

Masyarakat Jawa Tengah umumnya terkenal sebagai masyarakat yang ramah dan bertutur kata halus. Beragam legenda yang ada di masyarakatnya barangkali dapat menjadi cerminan tentang bagaimana kehidupan sehari-hari pada zaman dahulu kala. Merasa ingin tahu dengan aneka legenda Jawa Tengah, ada 8 legenda dari Jawa Tengah yang bisa kamu simak selengkapnya di bawah ini.

Rawa Pening

Rawa Pening
Sumber: kerajinanambarawa.com

Rawa Pening yang kini menjadi objek wisata di Jawa Tengah dulunya merupakan sebuah pedesaan biasa. Awal mula daratan ini berubah menjadi rawa dikarenakan kekesalan seorang pemuda miskin bernama Jaka Baru Klinting. Pemuda ini diejek terus-terusan oleh para warga karena miskin. Tidak tahan dengan perlakuan mereka, dia menantang para warga untuk mencabut rumput yang saat itu tumbuh di tanah.

Anehnya, tidak seperti rumput lainnya, rumput ini sangat sulit dicabut. Tak ada satupun warga yang bisa mencabutnya, dan hanya Jaka seorang yang bisa melakukannya. Setelah Jaka mencabut rumput, muncul air yang terus-terusan menyembur dan menjadikan desa itu sebagai rawa. Masyarakat yang selama ini mengejek Jaka pun ikut tenggelam. Hanya dua orang yang bisa selamat yaitu Nyi Lantung Klinting dan Jaka. Diketahui Nyi Lantung ini semasa hidupnya selalu menolong Jaka.

Gunung Wurung

Gunung Wurung
Sumber: ranselmungil.com

Alkisah, di suatu daerah tidak ditemukan suatu gunung maupun bukit. Entah kenapa para sesepuh waktu itu berdoa kepada dewa agar daerah mereka bisa dikaruniai gunung. Doa itu bersambut dan para dewa menyanggupi akan menciptakan satu gunung asalkan para warganya tak ada yang melihat sama sekali. Maka, para sesepuh membuat pengumuman agar para warganya tetap di rumah dan tidak keluar dari waktu maghrib sampai matahari kembali terbit.

Namun, saat proses pembuatan gunung akan selesai, tiba-tiba ada gadis yang muncul di sungai dekat gunung untuk mencuci beras. Dia begitu kaget melihat ada penampakan makhluk-makhluk besar yang membuat gunung. Lantas dia berlari ke arah desa dan berteriak. Mengetahui hal tersebut, dewa tahu kalau warga tidak taat pada perintahnya, sehingga mereka langsung meninggalkan gunung tersebut. Dikarenakan pembuatan gunung yang tidak selesai maka gunung itu dinamai sebagai Gunung Wurung (batal).

Asal Usul Nama Salatiga

Asal-Usul Nama Salatiga
Sumber: gridoto.com

Dulu, Semarang dipimpin oleh Ki Ageng Pandanaran yang kikir. Suatu waktu, dia didatangi oleh Sunan Kalijaga dan dia mendapatkan pelajaran supaya tidak tamak dalam menggunakan uang. Kemudian, selepas pertemuan itu, Ki Ageng menyatakan ingin berubah menjadi laki-laki yang lebih baik.

Dia juga ingin meninggalkan jabatannya serta mulai membangun pondok pesantren di Gunung Jabaikat. Istrinya, Nyi Ageng dengan senang hati bersedia ikut suaminya ke sana. Namun, dia memilih untuk berangkat lebih akhir dan akan menyusul setelahnya. Alasannya adalah dia ingin membawa perhiasannya yang masih tersisa.

Di tengah perjalanan, dia malah dihadang oleh tiga perampok. Nyi Ageng begitu ketakutan dan menyerahkan semua perhiasannya. Saat tiba di Gunung Jabaikat, Nyi Ageng menceritakan peristiwa itu kepada Ki Ageng. Kemudian, Ki Ageng mengingatkan jika ini adalah akibat ulah Nyi Ageng yang terlalu pusing dengan harta. Selepas kejadian itu, daerah tempat Nyi Ageng dirampok diberi nama Salatiga yang berarti tiga orang yang bersalah.

Aji Saka

Aji Saka
Sumber: dongengceritarakyat.com

Aji Saka merupakan seorang yang sangat sakti dan terkenal di legenda Jawa Tengah. Dia merupakan satu-satunya orang yang berani menghadap Dewata Cengkar, raja bengis yang memakan manusia. Sebelum dimangsa oleh Dewata Cengkar, Aji Saka meminta kepada Dewata agar dia memberikan tanah seluas sorbannya.

Tentu saja syarat itu langsung dikabulkan oleh Dewata. Tapi, Dewata tidak tahu kalau sorban itu bisa menjadi panjang dan meluas. Merasa tertipu, Dewata langsung memulai perkelahian, hingga Aji Saka mampu mengalahkannya dan melilitnya dengan sorban kepunyaannya. Tubuh Dewata pun dilempar ke Pantai Selatan dan tidak terselamatkan.

Sikidang Dieng

Sikidang Dieng
Sumber: korinatour.co.id

Di daratan Dieng, hiduplah seorang perempuan cantik bernama Shinto Dewi. Kecantikannya bisa dibilang tak ada yang menandingi, membuat banyak laki-laki ingin melamarnya. Namun, selalu ditolak oleh Shinto Dewi. Saat suatu lamaran dari pengeran Kidang Garungan datang, entah kenapa Shinto Dewi yakin jika laki-laki ini adalah laki-laki kaya dan tampan, sehingga dia menerimanya.

Shinto Dewi memang tidak pernah bertemu dengan Kidang Garungan, lalu pada hari pernikahannya dia terkejut karena Kidang Garungan ternyata berkepala kijang. Untuk mengurungkan pernikahan, Sinto Dewi mengajukan syarat agar Kidang bisa membuatkan sumur di satu lokasi untuk para warga dalam waktu semalam. Dalam proses pembuatan sumur itu, Shinto Dewi justru ingin menggagalkan dengan mengirim longsoran tanah ke lokasi Kidang menggali sumur.

Sayangnya, Kidang pun tak dapat selamat, dia sempat berujar jika keturunan Shinto Dewi akan menerima akibat berupa rambut yang menggimbal. Sementara itu, tempat Kidang terkubur itu tiba-tiba meledak dan melebar, kini dinamai sebagai Kawah Sikidang Dieng.

Baturraden

Baturraden
Sumber: portalwisata.com

Legenda Baturraden menjadi salah satu legenda yang mengisahkan kisah cinta antara abdi raja bernama Suta dan seorang putri adipati. Mereka jatuh cinta saat Suta mampu menolong putri adipati dari serangan ular yang begitu besar. Hanya saja, hubungannya ini tidak disetujui oleh adipati, atau ayah dari pihak perempuan.

Baca juga: Legenda Jawa Barat

Bahkan, Suta juga dimasukkan ke penjara karena cintanya yang tak direstui itu. Putri adipati yang tidak terima dengan hal itu mencoba berbagai cara agar bisa mengeluarkan Suta dari penjara. Akhirnya, dengan bantuan prajurit setia putri, Suta bisa dibebaskan. Mereka kemudian melarikan diri dan tinggal di daerah yang kini dikenal dengan Baturraden. Diambil dari kata batur yang berarti abdi, dan raden yang berarti keturunan dari adipati.

Gunung Merapi

Gunung Merapi
Sumber: tripzilla.id

Menurut legenda yang berkembang di masyarakat Jawa Tengah, Gunung Merapi dulunya merupakan Gunung Jamurdipa yang dipindahan ke lokasi Gunung Merapi. Perpindahan gunung itu perkirakan karena Pulau Jawa menjadi pulau yang tidak rata. Oleh karena itu, para dewa di kahyangan berusaha untuk memindahkan Gunung Jamurdipa demi membuat wilayah jawa lebih rata lagi.

Namun, di lokasi Gunung Merapi waktu itu masih ada dua empu pembuat keris yang tinggal di sana. Setelah dibujuk oleh utusan dewa untuk pindah, mereka menolak dan teguh pendirian tidak mau pindah. Ini membuat Dewa Bayu murka dan tak memperdulikan dua empu itu. Gunung Jamurdipa ditiup olehnya hingga berpindah ke lokasi dua empu tadi. Mereka pun tertindih oleh gunung dan konon Gunung Jamurdipa yang awalnya tidak berapi ini menjadi berapi karena api dari pembuatan keris itu. Lalu, berubahlah namanya menjadi Gunung Merapi.

Jaka Tarub

Jaka Tarub
Sumber: histori.id

Cerita Jaka Tarub barangkali menjadi salah satu legenda yang sangat terkenal dan bahkan ceritanya sudah didengar di seluruh nusantara. Cerita ini bermula saat Jaka Tarub sedang mencari hewan buruan di hutan. Akibat kelelahan, dia memutuskan untuk istirahat di dekat Danau Toyawening. Namun, betapa terkejutnya dia saat melihat tujuh bidadari sedang mandi di danau. Jaka yang waktu itu takjub dengan kecantikan mereka, malah mencuri satu selendang berwarna merah milik Nawangwulan.

Selendang yang diambil Jaka tadi membuat Nawangwulan tak dapat kembali ke kahyangan. Tak lama, Jaka tiba-tiba datang dan membawakan pakaian lain ke Nawangwulan. Merasa berterima kasih, Nawangwulan ingin Jaka menjadi suaminya, tentu saja Jaka langsung menerimanya. Mereka pun hidup bahagia dan dikaruniai anak bernama Nawangsih.

Baca juga: Legenda jogja

Suatu ketika, saat Nawangwulan beranjak ke lumbung untuk mengambil padi, dia merasakan ada sesuatu yang aneh di tumpukan padi itu. Dia meraba benda itu dan ternyata yang dia temukan adalah selendang miliknya. Nawangwulan tentu kecewa dengan apa yang dilakukan Jaka. Dia pun mendatangi Jaka dengan memakai selendangnya serta mengutarakan kekecewaanya. Nawang lalu berujar kalau dia akan meninggalkan Jaka dan takkan kembali lagi ke bumi. Oleh karena itu, dia harus merawat Nawangsih sendiri. Begitulah kisah cinta Jaka Tarub dan Nawangwulan berakhir.

Dari 8 legenda yang telah diceritakan di atas, terlihat jika Jawa Tengah memang memiliki legenda yang beragam. Baik legenda tentang cinta, kesaktian seseorang, serta asal mula suatu tempat. Selain itu, legenda-legenda tersebut begitu inspiratif, sehingga tak heran ceritanya bisa terkenal seantero nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *