8 Legenda dari Banten

Posted on

Setiap provinsi di Indonesia pastinya memiliki cerita tersendiri yang berkembang di kalangan masyarakatnya. Cerita tersebut umumnya terus diturunkan ke anak cucu hingga menjadi legenda daerah. Tidak terkecuali provinsi Banten. Sebagai daerah provinsi yang baru disahkan pada tahun 2000, Banten ternyata menyimpan banyak legenda daerah yang akan sangat disayangkan jika kamu tidak mengetahuinya. Nah, supaya tidak penasaran dengan legenda-legenda tersebut, mari simak 8 legenda dari Banten berikut:

Telaga Warna

Telaga Warna
Sumber: histori.id

Munculnya legenda telaga warna dikalangan masyarakat Banten bermula dari sebuah kerajaan. Pada suatu waktu, seorang puteri raja dilahirkan dan tumbuh sangat cantik serta sangat disayangi oleh anggota kerajaan maupun rakyatnya. Dikarenakan para rakyatnya yang begitu menyayangi puteri, menjelang usianya yang ketujuh belas, rakyat berusaha untuk memberikan suatu hadiah yang bisa menyenangkan sang puteri. Setelah sekian lama, akhirnya jadilah sebuah kalung yang bertatahkan permata dan emas yang kemudian diberikan terlebih dulu pada raja.

Pada hari dimana puteri berulang tahun, raja pun memberikan hadiah yang telah diberikan oleh para rakyatnya kepada sang puteri. Namun, justru sang puteri menolak pemberian dari rakyatnya bahkan tidak sedikitpun sang puteri menyentuh kalung tersebut.

Ketika sang ratu mencoba memasangkan kalung tersebut ke leher puteri, justru puteri membuang kalung itu. Hal ini membuat semua rakyat, raja, dan ratu pun menangis dan menyayangkan perilaku puteri. Tidak lama, tiba-tiba muncul sumber air yang berasal dari tempat dibuangnya kalung tersebut. Sumber mata air itupun meluas dan menjadi danau yang hingga saat ini dikenal dengan telaga warna.

Batu Kuwung

Batu Kuwung
Sumber: triptus.com

Legenda batu kuwung ini diawali dengan cerita hidupnya seorang saudagar kaya yang sangat kikir. Sifat tamak dan kikir dari saudagar ini telah terkenal hingga ke seorang yang sakti. Orang sakti itu pun menyamar menjadi pengemis yang pincang. Dia memohon bantuan pada si saudagar dan seperti yang bisa diduga, si saudagar pun mengusir si pengemis pincang itu. Merasa tidak terima dengan perlakuan si saudagar, si pengemis pun mengutuk kalau si saudagar akan merasakan rasa lapar dan menderita seperti si pengemis tadi.

Keesokan harinya, si saudagar bangun dengan kondisi kakinya lumpuh. Akhirnya dia meminta pertolongan pada banyak tabib, namun tak ada yang dapat menolongnya. Datanglah si pengemis pincang mengatakan jika semua ini adalah akibat sifatnya yang kikir. Si saudagar pun berucap kalau dia bersedia memberikan separuh hartanya untuk siapapun yang membutuhkan asalkan bisa sembuh.

Baca juga: Legenda dari Aceh

Mendengar hal tersebut, si pengemis pincang menyarankan si saudagar untuk pergi ke kaki Gunung Karang dan mencari batu cekung. Dia harus bertapa di atas batu tersebut selama 7 hari. Maka, saudagar itu pergi dibantu oleh anak buahnya dan dia pun melakukan pertapaan selama 7 hari. Ajaibnya, setelah 7 hari, batu tersebut mengeluarkan mata air panas. Si saudagar akhirnya mandi di sumber mata air itu, dan tak lama kakinya pulih. Begitulah asal mula sumber mata air panas Batu Kuwung yang sampai saat ini telah menjadi salah satu objek wisata terkenal di Banten.

Gunung Pinang

Gunung Pinang
Sumber: bantennews.co.id

Apakah kamu pernah mendengar legenda malin kundang? Pastinya pernah bukan. Legenda Gunung Pinang ini memiliki cerita yang mirip dengan cerita malin kundang tersebut. Cerita bermula di pesisir pantai di Banten, yang mana ada seorang anak bernama Dampu Awang yang tinggal dengan ibunya dalam kondisi sangat miskin.

Pada suatu waktu, Dampu Awang mendapatkan kesempatan untuk ikut berlayar dengan saudagar kaya. Saat meminta izin pada ibunya, justru ibunya menolak dengan keras karena takut jika anaknya akan melupakannya. Tapi, Dampu Awang tetap meyakinkan ibunya kalau hal itu tak akan terjadi. Ia pun akhirnya diizinkan berlayar.

Selama hidup dalam pelayaran, Dampu Awang menunjukkan sikapnya yang pekerja kerasa hingga membuat si saudagar kaya menikahkan Dampu Awang dengan puterinya. Tak lama setelah menikah, mereka mendatangi pesisir pantai yang dekat dengan tempat tinggal Dampu Awang. Si ibu pun melihat anaknya yang begitu gagah dan menyapanya. Ternyata, Dampu Awang malah pura-pura tidak mengenal ibunya dan berkata kalau ibunya sudah mati.

Si ibu menjadi murka dan memohon kepada Tuhan untuk menghukum Dampu Awang. Seketika petir pun menyambar dan bumi bergoncang. Kapal Dampu Awang tiba-tiba terangkat ke udara dan tertelungkup membentuk serupa gunung. Sayangnya, Dampu Awang dan istrinya ikut menjadi korban yang tak selamat. Itulah asal mula terjadinya Gunung Pinang menurut legenda setempat.

Tanjung Lesung

Tanjung Lesung
Sumber: bizlaw.id

Raden Budog merupakan salah seorang pengembara berpenampilan gagah dan tampan. Pada suatu waktu, Raden Budog yang mengembara bersama kuda dan anjing itu sedang tidur siang. Dia memimpikan gadis yang sangat cantik. Dari mimpinya ini, dia bergegas untuk melanjutkan pengembaraan sampai bertemu dengan gadis tersebut.

Dia dengan suka rela menerjang sungai yang begitu deras meninggalkan kuda dan anjingnya karena mendapat firasat kalau si gadis itu sudah dekat dari jangkauannya. Setelah tiba di suatu desa, Raden Budog akhirnya menemukan gadis tersebut yang bernama Sri Poh Haci sedang bermain lesung bersama gadis lain. Singkat cerita, mereka lama-lama pun menjadi dekat dan menikah.

Hampir setiap kali Sri Poh Haci memainkan lesung, Raden Budog menyaksikan dengan begitu antusias. Keantusiasannya ini menjadikan dia ikut belajar bermain lesung sampai melupakan pantangan dilarang memainkan lesung pada hari jumat. Akibat ulahnya ini, Reden Budog menjelma menjadi lutung dan lari ke hutan karena malu. Begitu juga Sri Poh Haci, dia sangat malu dengan Raden Budog dan memilih untuk meninggalakan kampung tersebut. Untuk mengenang Sri Poh Haci yang pandai bermain lesung, desa tersebut dinamai dengan Tanjung Lesung.

Cikaputrian

Cikaputrian
Sumber: dongengceritarakyat.com

Hiduplah seorang puteri raja yang begitu cantik dengan perangai yang sangat sombong. Puteri raja ini memaksa ayahnya untuk memberikan hadiah sebuah puri. Sang ayah pun menuruti kemauan anaknya. Di dekat puri tersebut terdapat danau yang digunakan oleh sang puteri untuk mandi. Tidak ada siapapun yang diperbolehkan untuk mandi di situ.

Suatu ketika saat sang puteri sedang mandi di danau, ada wanita tua yang menghampiri puteri. Puteri merasa sangat terganggu dengan kehadiran wanita itu, dia bahkan mencaci maki si perempuan tua. Perempuan tua itu sangat marah mendengar cacian puteri, dia pun mengutuk perlakuan si puteri.

Tiba-tiba suara petir yang begitu dahsyatnya menghantam tubuh puteri hingga terpental dan berubah menjadi seekor ular hitam. Si puteri benar-benar sedih melihat tubuhnya, dia akhirnya memilih bersembunyi di bagian dasar danau. Dikarenakan hal ini, danau tersebut dinamai oleh Cikaputrian yang mempunyai arti sebagai tempat mandi puteri.

Karang Bolong

Karang Bolong
Sumber: goodnewsfromindonesia.id

Pada suatu masa, seorang permaisuri raja di Kesultanan Kartasura mengalami sakit keras yang membuat raja dan rakyatnya begitu berduka. Penasihat raja memberikan usul agar raja pergi bersemedi untuk memohon kesembuhan sang permaisuri. Setelah sekian lama bersemedi, raja mendengar suatu suara yang berbicara menyuruhnya berhenti bersemedi dan mencari bunga karang di Pantai Selatan.

Raja akhirnya mengakhiri semedinya dan kembali ke kerajaan. Dia menyuruh abdinya bernama Adipati Surti untuk mencari bunga karang tersebut yang mana terdapat di Karang Bolong. Karang Bolong merupakan sebuah gua yang memiliki banyak bunga karang. Saat mencari bunga karang tersebut, Adipati bertemu dengan Suryawati yang mengarahkannya menuju ke bunga karang yang ternyata adalah sarang burung walet, hanya saja Suryawati mengajukan syarat pada Adipati.

Syarat tersebut adalah Adipati Surti harus mau untuk tinggal bersama dengan Suryawati nantinya. Adipati menyanggupi syarat tersebut dan membawa bunga karang itu ke hadapan raja. Dengan ajaibnya, permaisuri berhasil pulih. Adipati pun meminta izin pada raja untuk kembali ke Karang Bolong karena ada seseorang yang menunggunya. Dengan berat hati, raja mengizinkan. Adipati dan Suryawati akhirnya hidup berbahagia di Karang Bolong.

Prasasti Munjul

Prasasti Munjul
Sumber: arkeologiuntirta.wordpress.com

Terbentuknya Prasasti Munjul ini didasari oleh cerita penangkapan pemimpin bajak laut beserta gerombolannya yang beranggotakan lebih dari lima puluh orang. Kisah ini terjadi pada masa Raja Purnawarman. Setelah perburuan yang sangat berliku-liku, Raja Purnawarman dan panglimanya berhasil menangkap para bajak laut itu bahkan membunuh pemimpinnya.

Dengan keberhasilan yang begitu luar biasa tersebut, prasasti ini dipahat di atas batu andesit oleh raja menggunakan bahasa sanksekerta dan huruf palawa. Nama munjul sendiri diambil dari daerah di mana prasasti ini bisa ditemukan, yaitu di Desa Lebak, Munjul, Pandeglang, Banten.

Pangeran Pande Gelang dan Putri Cadasari

Pangeran Pande Gelang dan Putri Cadasari
Sumber: gudangbelajar008.blogspot.com

Legenda yang satu ini menjadi salah satu legenda yang sangat populer di kalangan masyarakat Banten. Alkisah cerita dimulai dari Putri Cadasari yang bersedih karena diancam untuk menerima lamaran pangeran Cunihin. Saat sang puteri sedang menangis, seorang laki-laki yang memikul karung mendekat dan mengenalkan diri sebagai Ki Pande Gelang. Beliau ternyata adalah seorang pembuat gelang.

Ki Pande memberikan usul kepada puteri untuk menyuruh Cunihin melubangi batu keramat di pantai dalam waktu tiga hari. Puteri Cadasari merasa syarat itu terlampau mudah, namun Ki Pande meyakinkan jika syarat itu justru akan membuat Pangeran Cunihin kehilangan kekuatan. Seperti dugaan puteri, Cunihin benar-benar bisa melubangi batu karang hanya dengan menempelkan tangan. Ki Pande pun mengambil alih dengan memasangka gelang besar di lubang tersebut.

Saat Pangeran Cunihin mengajak Puteri Cadasari melewati lubang itu, tiba-tiba tubuh Pangeran berubah menjadi kakek tua renta. Sementara itu, Ki Pande justru berubah menjadi laki-laki gagah dan tampan. Pada akhirnya, Ki Pande Gelang dan Puteri Cadasari akhirnya menikah dan meninggalkan Pangeran Cunihin yang begitu angkuh itu.

Baca juga: Legenda Sumatra Utara

Nah, itu tadi sekilas mengenai 8 legenda dari Banten yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Dengan mengenal legenda-legenda Banten tadi, tentunya akan semakin menambah wawasanmu mengenai kebudayaan yang ada di Banten. Selain itu, di setiap legenda yang diceritakan juga tersimpan pesan moral yang sangat patut untuk diteladani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *