6 Rumah Adat Papua Beserta Gambar dan Penjelasannya

Posted on

Apa sih yang paling unik dari Papua?

Papua merupakan salah satu provinsi yang ada di Indonesia. Di Papua kamu bisa menemukan endemik-endemik yang indah dan tidak ditemukan di tempat lain. Misalnya burung cenderawasih, kasuari dan nuri sayap hitam. Selain endemiknya, budaya dan adat Papua juga eksotik. Di pedalaman Papua, kamu asih bisa menjumpai masyarakat yang hanya menggunakan koteka ataupun rok dari jerami.

Wisata alam di atas dan bawah juga menakjubkan. Seperti gunung dengan salju abadi dan keindahan biota laut yang nggak ada duanya.

Nah, dalam artikel ini akan dibahas secara tuntas rumah adat Papua. Beberapa rumah adat masih bisa kamu temukan di Papua, dan ada pula yang sudah punah atau sulit dijumpai. Apa aja sih? Simak di bawah ini.

1. Rumah Adat Honai

rumah adat papua honai
Sumber: Roomah.id

Honai merupakan rumah adat Papua yang digunakan sebagai tempat tinggal Suku Dani. Nama Honai diambil dari kata “hun” dan “ai”. “hun” berarti laki-laki dan “ai” berarti rumah. Sesuai dengan namanya, rumah ini hanya boleh ditinggali oleh laik-laki yang telah dewasa dari Suku Dani.

Rumah adat ini sering dijumpai di daerah pegunungan atau lembah. Karena itu pembangunannya juga disesuaikan dengan iklim. Bagian atap yang berasal jerami ditumpuk rapat dapat melindungi dari air hujan. Luasnya yang tidak besar membuatnya lebih mampu menahan udara panas di dalam rumah. Honai dibangun menghadap matahari terbit atau tenggelam.

Arsitektur rumahnya sederhana. Material pembuatannya berasal dari kayu dan daun jerami. Bila dilihat secara menyeluruh, Honai menyerupai sebuah jamur. Honai hanya memiliki 1 buah pintu dibagian depan dan tidak mempunyai jendela.

Setiap rumahnya dibagi menjadi 3 lantai. Bagian paling bawah umumnya digunakan unruk menyimpan jasad keluarga yang sudah menjadi mummi. Bagian lantai dasar digunakan untuk menerima tamu laki-laki. Bagian paling atas sendiri digunakan sebagai tempat untuk tidur. Alas tidur umumnya hanya menggunakan jerami saja. Oh iya, rumah adat ini tidak memiliki lampu. Sehingga sebagai penerangan serta menghangatkan badan dibuatlah api ditengah lingkaran di lantai.

Honai yang sudah tidak digunakan sebagai tempat tinggal dialih fungsikan sebagai tempat penyimpanan. Barang -barang yang disimpan berupa alat untuk perang dan warisan dari leluhur adat.

2. Ebai

rumah adat papua ebai
Sumber: Roomah.id

Ebai sering disebut sebagai pasangan dari Honai. Sebutan ini bukan tanpa alasan, sebab Ebai dibangun tepat di sebelah Honai. Bila Honai merupakan tempat tinggal laki-laki, maka Ebai adalah tempat tinggal perempuan dan ana-anak. Rumah Adat Papua Ebai ini diambil dari kata “ebe” dan “ai” yang berarti rumah tubuh.

Ukurannya serupa dengan Honai, namun lebih pendek dan lebar. Materialnya tetap menggunakan kayu dan jerami. Pembagian struktur ruangan pun hampir sama. Bagian atas merupakan tempat tidur dan bagian bawah sebagai tempat menerima tamu.

Fungsi lain dari rumah adat Ebai adalah untuk melakukan segala kegiatan rumah tangga. Mulai dari memasak, mengajari anak-anak dan segala kegiatan rumah tangga. Ebai juga tidak memiliki jendela dan hanya memiliki pintu. Penempatan pintu tidak disejajarkan dengan Honai meskipun bersebelahan.

Dalam rumah adat Ebagi, pasangan sah suami istri bisa tidur bersama. Hal ini diperbolehkan asal tidak ada orang lain di dalam rumah, termasuk anak-anak mereka.

3. Wamai

wamai
Sumber: Aminama.com

Rumah Adat Papua lainnya adalah Wamai. Wamai tidak digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat Papua. Masyarakat di sana membangun Wamai sebagai tempat tinggal hewan ternak mereka. Sengaja dibuat sebab masyoritas masyarakat Papua adalah peternak.

Arsitektur rumahnya asih menyerupai Honai dan Ebai, namun luasnya tidak sama. Luas Wamai biasanya ditentukan oleh seberapa banyak hewan ternak yang dimiliki. Bagian atap Wamai terlihat lebih kerucut dengan kerapatan dinding tidak terlalu rapat.

Biasanya Wamai untuk ayam dan babi dibedakan. Masyarakat Papua pun cenderung memperhatikan kenyamaan hewan ternak mereka.

4. Kariwari

rumah adat papua kariwari
Sumber: BorneoChannel.com

Kariwari adalah rumah adat Papua yang ditinggali oleh Suku Tobati-Enggros. Rumah ini biasanya dijumpai pada danau Sentani bagian tepinya. Yang diperbolehkan untuk menempati rumah ini hanya laki-laki yang sudah dewasa atau berumur lebih dari 12 tahun.

Sembari menempati Kariwari, laki-laki diharapkan juga belajar ilmu kehidupan di rumah ini. Sebab itulah Kariwari juga disebut sebagai rumah tempat menimba ilmu. Beberapa ilmu yang diajarkan seperti

  • cara berperang
  • mencari nafkah
  • bagaimana bertanggung jawab kepada keluarga
  • membuat perahu
  • bagaimana cara membuat senjata
  • memahat, dsb.

Biasanya setelah belajar di Kariwari, laki-laki Suku Tobati-Enggros diharap mampu bagaimana menjadi laki-laki sebenarnya.

Arsitektur rumah adat Papua ini lebih tertata dan rapi daripada Honai dan Ebai. Atapnya dibuat bentuk segi delapan dengan model menyerupai limas. Bentuk ini dianggap mampu menahan hembusan angin kencang. Selain itu, atap yang berbentuk kerucut mengandung makna yang dekat dengan leluhur.

Baca juga: Rumah Adat Jawa Timur

Ruangan dalam Kariwari dibagi menjadi 3 lantai. Masing-masing lantai mempunyai fungsi yang berbeda. Lantai paling atas dikhususkan sebagai tempat untuk meditasi dan berdoa kepada para leluhur. Sedangkan lantai kedua Kariwari difungsikan sebagai tempat bertemu antara para pemimpin adat dengan kepalasuku. Ketika tidak ada pertemuan,lantai ini digunaan sebagai tempat untuk tidur laki-laki. Lantai palingbawah difungsikan untuk belajar.

Material pembangunannya masih menggunakan bahan-bahan alam. Misalnya pohon babu yang digunkan sebagai dinding dan daun sagu sebagai atap.

5. Rumsram

Rumsram
Sumber: Arsitektour.wordpress.com

Rumsram memiliki model yang berbeda diantara rumah adat Papua lainnya. Bangunannya menggunakan model rumah panggung yang disokong dengan menggunakan kayu. Rumsram sering ada di bagian pesisir pantai Papua. Rumah panggung dipilih karena berguna untuk menghindari air laut saat pasang. Rumsram digunakan sebagai tempat tinggal bagi Suku Biak Numfor laki-laki.

Rumsram memiliki arsitektur yang terlihat elegan. Tampilan elegan didapat dari ornamen-ornamen ukiran yang ada di dalam rumah. Selain memiliki pintu, Rumsram juga dilengkapi dengan jendela. Bentuk atapnya menyerupai sebuah perahu terbalik dengan daun sagu sebagai penutupnya. Dindingnya terbuat dari pilar-pilar bambu yang disusun rapi. Sedangkan lantainya berasal dari ulit kayu.

Ruangannya terbagi menjadi 2 lantai. Lantai pertama berfungsi sebagai tempat menimba ilmu para laki-laki. Mereka diajarkan hal yang serupa di Rumah Adat Kariwari. Lantai kedua berfungsi sebagai tempat untuk tidur dan beristirahat.

Rumsram mempunyai tinggi rumah 6-8 meter.

6. Rumah Adat Papua di Atas Pohon

rumah suku korowai
Sumber: AdventureCarstensz.com

Rumah Adat Papua yang berada di atas pohon memang sudah sangat langka. Kalau kamu beruntung, kamu bisa menjumpainya di Papua pedalaman. Rumah jenis ini biasanya dibangun oleh Suku Korowai. Suku ini menetap dibagian selatan Papua. Daerah ini diapit oleh gunung dan sungai-sungai besar.

Modelnya adalah bangunan rumah yang benar-benar di atas pohon. Masyarakat di sana biasa membangun di atas 15-50 meter. Materialnya berasal dari kayu sebagai dining dan alas, sedangkan atapnya berasal dari daun-daun.

Suku Korowai percaya bahwa pembangunan di atas pohon mampu menghindarkan mereka dari gangguan roh jahat laleo dan binatang buas. Laleo adalah julukan untuk orang-orang asing yang bukan dari golongan mereka.

Baca juga: Rumah Adat Riau

Itu dia 6 rumah adat Papua. Keberadaan rumah adat tersebut dikhawatirkan semakin punah, apalagi Honai dan rumah di atas pohon. Untuk itu yuk saling menjaga kebudayaan dan adat daerah. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *