8 Legenda dari Sulawesi Barat

Posted on

Sulawesi Barat mempunyai banyak sekali legenda daerah yang patut untuk dikenalkan lebih kepada masyarakat umum di seluruh Indonesia. Misalnya saja legenda asal mula Pamboang, legenda hawadiyah, dan legenda burung cengnge. Penasaran seperti apa kisah dari legenda-legenda yang telah disebutkan? Simak selengkapnya dengan legenda lainnya berikut.

Asal Usul Pamboang

Asal Mula Pamboan
Sumber: Febri Manuel from flickr.com

Pamboang menjadi salah satu daerah di Majene, Sulawesi Barat yang punya legenda dibalik penamaannya. Dahulu, ada tiga orang pemuda bernama I Lauase, I Lauwella, dan I Labuqang yang ingin membuat sebuah wilayah baru. Mereka bertugas bekerja di bagiannya masing-masing, sehingga dalam kurun 1 minggu saja wilayah baru itu sudah berhasil dibuka.

Mereka berunding membuat nama wilayah tersebut dan terpilihlah satu nama yaitu Pallayarang Talu yang berarti tiga tiang layar. Beberapa bulan kemudian, Puatta Di Karena datang ke Pallayarang Talu dan mengajak wilayah tersebut untuk bergabung dengan Pitu Baqbana Binanga atau persekutuan kerajaan-kerajaan di daerah Mandar. Namun, I Lauase sempat menolak karena warga mereka masih miskin.

Puatta Di Karena kemudian menawarkan untuk memberi upah atau tambo kepada seluruh warga Pallayang Talu. I Lauase pun menyetujui hal tersebut dan mengumumkan hal itu kepada warganya. Tetapi, setelah ditunggu berbulan-bulan Puatta Di Karena tak kunjung kembali dan memberikan tambo. Sehingga, para warganya terus membicarakan tambo itu. Dikarenakan hal tersebut,  wilayah itu berubah menjadi Tamboang, serta kelamaan berubah menjadi Pamboang.

Asal Usul Tari Patuddu

Asal Mula Tari Patuddu
Sumber: seringjalan.com

Tari patuddu menjadi tari tradisional yang berasal dari Mandar, Sulawesi Barat. Tarian ini berasal dari kisah seorang putra raja yang melihat tujuh kawanan burung merpati berubah menjadi tujuh bidadari yang begitu cantik sedang mandi. Putra raja itu pun berencana menyembunyikan selendang salah satu bidadari. Seperti yang diduga, bidadari itu tak bisa pulang ke kahyangan dan ditolong si putra raja.

Singkat cerita, mereka menikah dan mempunyai anak. Saat si bidadari itu sedang membersihkan rumahnya, dia menemukan selendang miliknya. Dia begitu senang dan berujar pada suaminya kalau dia akan kembali ke kahyangan.

Suaminya sekaligus putra raja itu pun tak bisa melarang. Si bidadari mulai naik ke kahyangan ketika pelangi membentang di langit. Gerakan sang bidadari melewati pelangi menuju ke kahyangan itulah yang dijadikan inspirasi untuk tari patuddu.

Legenda Hawadiyah

Hawadiyah
Sumber: pakdinrasa.blogspot.com

Hawadiyah adalah gadis miskin yang ikut bekerja dengan ibunya di rumah ayah Bekkandari. Suatu hari, saat ayah Bekkandari pergi ke Pulau Jawa, ibu Hawadiyah menitipkan minyak kelapa untuk dijual di sana. Tiba di Jawa, ayah Bekkandari menjual minyak itu ke pemuda kaya bernama Maradia Jawa. Saat membuka minyak tersebut, Maradia melihat pantulan wajah Hawadiyah, wajah yang selalu muncul di mimpinya.

Hal ini membuat Mara Dia penasaran dengan Hawadiyah dan memutuskan datang ke Mandar untuk menemui Hawadiyah. Ketika sudah tiba di Mandar, Maradia melakukan pendekatan dengan Hawadiyah, lantas mengajaknya menikah dan tinggal di Jawa. Betapa senangnya Hawadiyah, namun Bekkandari yang iri dengan Hawadiyah malah mencelakai Hawadiyah dan membuat wajahnya menjadi rusak.

Ibu Mara Dia Jawa pun tak setuju mendapat menantu seperti itu. Dia lebih setuju jika Maradia Jawa menikah dengan Bekkandari. Keajaiban pun datang kepada Hawadiyah, saat dia diasingkan, wajahnya berubah menjadi cantik kembali. Setelah itu, Maradia juga menyadari kalau Bekkandari lah yang mencelakai Hawadiyah. Kemudian, Maradia dan Hawadiyah pun menikah.

Legenda Kanne Paummisang

KAnne Paummisang
Sumber: dongengceritarakyat.com

Legenda yang satu ini bermula dari daerah Tinambung Mandar, Sulawesi Barat. Hidup seorang kakek yang tinggal sendiri di gubuknya dengan bekerja sebagai petani. Si kakek ini punya kebiasaan yang sangat unik yaitu memakan tebu dan ampasnya dia kumpulkan di rumahnya. Oleh karena kebiasaan ini, si kakek dijuluki Kanne Paummisang.

Kanne Paummisang suka sekali membagikan hasil kebunnya ke para warga, sehingga banyak warga yang begitu hormat kepadanya. Kedermawanan tersebut terus berlanjut, begitu juga dengan kebiasaannya mengumpulkan ampas tebu di rumahnya hingga menggunung. Entah apa alasannya, sampai-sampai Kanne Paummisang pun ditemukan wafat di atas tumpukan ampas tebunya sendiri.

Legenda Panglima To Dilaling

Panglima To Dilaling
Sumber: dongengceritarakyat.com

Sebelum bernama Panglima To Dilaling, pemuda gagah nan sakti itu bernama Panglima I Manyambungi. Dia merupakan anak dari Raja Balanipa yang hendak dibunuh ketika bayi, namun diselamatkan oleh panglima raja, Puang Mosso, lalu dibawa oleh elang besar hingg dirawat oleh Raja Gowa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *