8 Legenda dari Jawa Timur

Posted on

Provinsi yang ada di bagian timur pulau Jawa ini ternyata tergolong sebagai 5 besar jumlah masyarakat terbanyak di Indonesia. Dengan jumlah masyarakat yang banyak dan majemuk, provinsi ini pastinya juga tidak lepas dari berbagai macam legenda yang berkembang di masyarakatnya. Diantara banyaknya macam legenda, ada 8 legenda Jawa Timur yang bisa kamu simak di bawah ini:

Jaka Budug dan Putri Kemuning

Jaka Budug
Sumber: labbineka.kemdikbud.go.id

Sebuah legenda cinta ini mengisahkan seorang laki-laki berpenyakit budug bernama Jaka Budug dengan seorang putri raja yang cantik jelita dan berbau harum bernama Putri Kemuning. Tanpa diketahui sebabnya, Putri Kemuning mengalami sakit yang menyebabkan dirinya berbau tidak sedap. Sang raja lantas membuka sayembara bagi siapa yang bisa menemukan obat berupa daun sirna ganda di gua yang terletak di kaki Gunung Arga Numadi.

Jaka Budug yang tahu akan pengumuman itu memberanikan diri ikut sayembara. Berkat keris yang sakti yang dia punya, dia berhasil mengalahkan naga yang tinggal di gua itu. Dengan begitu, dia dapat mengambil daun sirna ganda dan wujudnya yang penuh budug pun tiba-tiba berubah menjadi bersih. Akhirnya, dia datang ke istana dan membawakan obat itu. Sang raja lantas menikahkan Jaka Budug dan Putri Kemuning.

Jaka Seger dan Rara Anteng

Jaka Seger Rara Anteng
Sumber: juanesia.info

Jaka Seger adalah seorang pemuda yang lahir dalam keadaan sangat sehat sehingga dinamai demikian. Sedangkan Rara Anteng, lahir dalam kondisi tidak menangis, maka oleh ayah ibunya dinamai Rara Anteng. Saat dewasa, mereka saling jatuh cinta dan menikah. Lalu, mereka tinggal di desa yang kini disebut sebagai Tengger (gabungan nama Anteng dan Seger). Namun, setelah usia pernikahan mereka sudah berjalan bertahun-tahun, mereka tak kunjung dikaruniai anak. Jaka Seger pun berikrar jika dia dikaruniai hingga 25 anak, maka dia akan mengorbankan 1 anaknya ke kawah bromo.

Tak disangka, ikrarnya terkabul dan dia dikaruniai anak sebanyak 25 orang. Saat mereka sudah dewasa, Jaka Seger lupa kalau dia akan mengorbankan salah satu anaknya. Sebenarnya, anak-anaknya tak mau melakukan pengorbanan ini. Tapi, ada satu anak bernama Dewa Kusuma yang bersedia melakukan hal itu dengan syarat dia diceburkan pada tanggal 14 bulan Kasada. Atas peristiwa ini, pada bulan kesepuluh tiap tahunnya para warga Tengger melakukan ritual Yadnya Kasada.

Gunung Kawi

Gunung Kawi
Sumber: pegipegi.com

Di Gunung Kawi terdapat makam seorang bernama Eyang Jugo yang sering dikunjungi dan diziarahi oleh banyak orang Tionghoa. Asal mula makam itu memang tak diketahui, namun ada seorang pemuda dari Cina yang datang ke Gunung Kawi untuk membalas budi dengan Eyang Jugo.

Saat tahu jika Eyang Jugo sudah meninggal di sana, dia merawat makam Eyang Jugo serta membangunkan tempat ziarah bagi makamnya bergaya Cina. Oleh karena alasan ini, makam di Gunung Kawi ini jadi banyak disinggahi oleh orang Tionghoa. Bahkan, ada pula yang sekedar berekreasi ke sana menikmati alam Gunung Kawi. Sayangnya, ada juga yang pernah berpendapat jika makam itu disalahgunakan sebagai pesugihan.

Keong Mas

Keong Mas
Sumber: paktanidigital.com

Sudahkah kamu mendengar tentang legenda keong mas? Pasti banyak yang sudah tahu dengan legenda satu ini. Legenda yang menceritakan tentang Candra Kirana yang dikirimi kutukan menjadi keong mas oleh saudaranya sendiri, Dewi Galuh. Dia merasa iri dengan Candra Kirana yang dilamar oleh pangeran tampan bernama Raden Inu Kertapati. Saat diubah menjadi keong, keluarga Candra Kirana mencoba menghanyutkannya di sungai.

Dia pun ditemukan oleh nenek yang sedang mencari ikan di sungai. Melihat wujud keong yang cantik, si nenek menaruh keong itu di tempat yang aman. Kehadiran keong mas di rumah nenek itu telah memberikan berkah bagi nenek. Tiap hari dia bisa meraskan makanan enak karena keong mas. Raden Inu yang curiga dengan menghilangnya Candra Kirana mencoba mencari hingga menemukan Candra Kirana yang sedang memasak di suatu gubuk. Mereka pun saling menemukan dan akhirnya kutukan Candra Kirana hilang.

Asal Usul Nama Surabaya

Asal Usul Nama Surabaya
Sumber: kisahasalusul.blogspot.com

Sebagai ibu kota provinsi di Jawa Timur, nama Surabaya berasal dari legenda terkenal Sura dam Baya. Sura adalah hiu, sementara Baya adalah buaya. Keduanya selalu bertengkar dan berebut daerah ke kekuasaan. Merasa lelah dengan pertikaian mereka sendiri, Sura mengajukan peraturan pada Baya, jika daerah laut menjadi miliknya, sementara daratan jadi milik Baya.

Baya setuju dengan hal ini, namun lambat laun justru Sura mengkhianati peraturan yang dia buat sendiri. Baya pun murka dengan apa yang dilakukan Sura. Pertikaian pun mulai terjadi lagi dan banyak warga yang tahu akan pertikaian sengit ini. Akibatnya, mereka memberi nama daerah ini menjadi Surabaya gabungan dari Sura dan Baya.

Aryo Menak

Aryo Menak
Sumber: panbelog.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *