rumah-adat-bali-gapura-candi-bentar

Rumah Adat Bali dan Detail Bangunannya

Posted on

Bali atau biasa dikenal dengan Pulau Dewata merupakan salah satu provinsi di Indonesia. Provinsi ini masuk dalam Kepulauan Nusa Tenggara dan lahir sejak 14 Agustus 1949.

Lewat wisata alam dan budaya Bali menjadi sukses dikenal oleh banyak orang mancanegara. Bahkan beberapa turis mancanegara lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Hal ini memang sepenuhnya tidak bisa disalahkan, sebab yang membawa nama Indonesia menjadi terkenal salah satunya memang lewat Bali.

Ketika berada di Bali kamu akan disuguhkan pengaruh agama Hindu yang tercampur menjadi budaya. Setiap jengkal pandangan akan terlihat masyarakat Bali memanggul sesajen menuju Pura. Kalau bosan dengan wisata budaya, Bali pun memanjakan kamu dengan wisata alam yang tidak kalah ciamik.

Nah khusus di artikel ini, akan dibahas tentang rumah adat Bali. Rumah adat Bali hanya ada satu. Namun dalam satu bangunan tersebut terdiri dari serangkaian bangunan yang berada di dalamnya.

Nama Rumah Adat Bali

rumah adat bali
Sumber: Wartawisata

Serangkaian bangunan yang tergabung dalam rumah adat Bali bernama Gapura Candi Bentar. Rumah adat ini masih bisa kamu temukan di Bali hingga sekarang. Umumnya masarakat Bali asli masih mempertahankan desain arsitektur dan tata letak dari bangunan ini.

Secara garis besar, struktur Gapura Candi Bentar sederhana. Bagian depannya terdapat dua candi sejajar yang berfungsi sebagai gapura. Setelah itu terdapat Pura sebagai tempat beribadah umat Hindu. Pura ini ditempatkan sebelum menuju rumah utama.

Unsur Terpenting dalam Bangunan

Masyarakat provinsi ini memiliki 2 unsur penting yang nggak boleh kelewat saat membangun rumah adat. Apa aja unsur terpeting itu?

Aturan Bangunan Rumah dan Gapura Candi Bentar

rumah-adat-bali-gapura-candi-bentar
Sumber: Wikipedia

Seluruh bangunan Rumah Adat Bali harus dikelilingi oleh tembok besar. Tembok besar ini dimaksudkan mampu menjadi pemisah antara lingkungan yang ada di dalam dengan lingkungan yang ada di luar.

Selain gapura di bagian depan, terdapat bangunan lagi yang berbentuk segi empat. Di dalam bangunan segi empat tersebut, ada beberapa bangunan dengan fungsi yang berbeda-beda.

Pedoman dalam Membagi Ruangan

Masyarakat Bali memiliki aturan untuk menata tata ruang pada rumah adat mereka. Aturan ini disebut dengan Asta Kosala Kosali. Maknanya adalah terbangunnya dinamis dan keselarasan dalam hidup ketika berhasil mencapai suatu hubungan yang harmonis. Romantis, kan?

Asta Kosala Kosali adalah wujud aturan yang menyatakan bahwa rumah adat Bali berperan sebagai diorama dari alam semesta atau biasa disebut dengan Bhuana Agung. Bhuana Agung berfungsi sebagai tempat untuk manusia atau Bhuana Alit melakukan aktivitas.

Macam-macam Bangunan dan Aritektur Rumah Adat Bali

Arsitektur rumah adat provinsi ini memang masih lekat dengan warisan turun temurun. Penuh dengan ornamen dan ukiran-ukiran yang membuat semakin klasik dan antik. Gaya bangunan setiap detail rumah pun dipengaruhi oleh Hindu. Ukiran-ukiran tersebut meiliki warna yang beragam. Masyarakat Bali beranggapan bahwa ukiran-ukiran tersebut merupakan lambang keindahan.

Di beberapa sudut rumah pun kamu akan melihat beragam bentuk patung. Biasanya patung-patung tersebut berasal dari beragam jenis fauna. Setiap patung memiliki unsur suci yang diyakini oleh masyarakat provinsi ini.

Kalau kamu sedang berjalan-jalan di sekitar Bali, jangan heran pula bila sering mendapati sesajen di banyak tempat.

Rangkaian Gapura Candi Bentar berjumlah tiga bangunan. Bangunan-bangunan ini mempunyai nama dan kegunaan masing-masing.

Angkul-angkul

Angkul angkul
Sumber: Thegorbalsla

Angkul-angkul merupakan nama pintu masuk sebelum menuju rumah utama. Sebenarnya bila dilihat dari fungsi dan bentuknya, Angkul-angkul serupa dengan Gapura Candi Bentar. Namun masyarakat Bali lebih sering membedakan 2 bangunan ini. Perbedaan yang paling menonjol dari Angkul-angkul dan Gapura Candi Bentar adalah bagian atap yang menghubungkan keduanya.

Pura Anggota Keluarga

pura keluarga
Sumber: Sejarah Hari Raya & Upacara Yadnya Bali

Pura seperti bangunan wajib yang harus ada di setiap rumah adat Bali. Pura keluarga yang ada pada setiap rumah dikhususkan sebagai tempat beribada dan berdoa bagi anggota keluarga. Masarakat Bali menyebutnya sebagai Pamerajan atau Sanggah.

Penempata Pura Keluarga umumnya berada di sudut timur laut dari rumah utama.

Aling-aling

aling aling
Sumber: Yuk Sinau

Aling-aling adalah pebatas antara Angku-angkul dengan halaman menuju tempat suci. Masyarakat provinsi ini percaya bahwa Aling-aling merupakan pembawa aura positif bagi pemilik rumah. Sebab itulah Aling-aling selalu ada di setiap rumah adat Bali.

Dinding pembatas pada Aling-aling biasa disebut dengan penyengker. Bagian dalamnya terdapat ruangan yang digunakan untuk beraktivitas bagi penghuni rumah.

Material Rumah Adat Bali

Bali memiliki sistem kasta yang diadaptasi dari agama Hindu. Sistem kasta inilah yang menjadi salah satu penyebab material pembangunan rumah adat di Bali tidak sama. Selain kasta, faktor ekonomi dari masing-masing keluarga juga berpengaruh dalam pembangunan rumah.

Bagi masyarakat biasa, dinding rumah dibuat dari speci yang berasal dari tanah liat atau popolan. Atapnya terbuat dari ijuk atau alang-alang yang disusun rapi. Sedangkan bagi masyarakat dengan kasta dan ekonomi menengah ke atas, maka dinding dibuat dari tumpukan bata. Bagian atap rumahnya ditutup dengan genting yang disusun secara rapi pula.

Detail Bangunan / Struktur

Masyarakat Pulau Dewata ini mempunyai 7 struktur bangunan yang ada dalam satu rangkaian rumah adat Bali. Berikut 7 struktur bangunannya:

Rumah Adat Bale Manten

rumah adat bali bale manten
Sumber: Forunstate

Bale Manten berada di sebelah utara setelah masuk gapura. Fungsi bangunan ini adalah tempat para anak gadis pemilik rumah. Beberapa masyarakat ada yang menggunakannya sebagai tempat singgah bagi kepala keluarga.

Desainnya berbentuk persegi panjang dengan material kayu serta batu bata sebagai pondasinya. Bagian atap memanfaatkan genting.

Masyarakat Bali beranggapan bahwa membangun Bale Manten merupakan sebuah bentuk perhatian keluarga terhadap anak gadis yang dimiikinya.

Bale Dauh

bale dauh
Sumber: TheMoonDoggies

Bale Dauh digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu keluarga. Selain itu, bangunan ini juga berfungsi sebagai tempat istirahat remaja laki-laki.

Desainnya serupa dengan Bale Manten, yaitu persegi panjang. Material bangunan yang digunakan pun sama. Perbedaan yang mencolok dari Bale Manten dan Bale Dauh adalah peletakkan bangunan. Bale Dauh berada di sisi barat bagian dalam ruangan. Lantainya pun dibuat lebih rendah dari Bale Manten.

Bale Gede

bale gede
Sumber: TheMoonDoggies

Bale Gede digunakan masyarakat Bali sebagai tempat melaksanakan upacara adat. Fungsi lainnya dari Bale Gede adalah tempat untuk menghidangkan makanan khas Bali, menghidupkan sesaji dan berkumpul.

Desainnya lebih besar ketimbang Bale Manten dan Bale Dauh. Bentuknya persegi panjang dengan tiang yang berjumlah 12. Pondasinya lebih tinggi daripada Bale Manten dan Bale Dauh.

Bale Sekapat

Bale Sekapat
Sumber: TheMoonDoggies

Kalau dalam adat Jawa, desain dari Bale Sekapat ini mirip dengan gazebo. Fungsinya pun mirip dengan gazebo, yaitu digunakan sebagai tempat bersantai bagi keluarga. Di Bale Sekapat inilah antara anggota keluarga saling becengkrama membangun keakraban.

Jineng atau Klumpu

jineng
Sumber: TheMoonDoggies

Jineng digunakan masyarakat Bali sebagai tempat menyimpan padi. Bagian bawah untuk padi yang belum dijemur, sedangkan bagian atas untuk padi yang telah dijemur.

Sayangnya bangunan ini sudah susah ditemukan di Bali. Beberapa yang masih mempertahankan Jineng, namun mengubah material aslinya. Jineng dulunya dibuat dari kayu seluruhnya. Karakteristik dari Jineng adalah arsitekturnya yang mirip gua dengan pondasi yang tinggi.

Pawaregen

pewaregen
Sumber: Badan Penghubung Provinsi Bali

Masyarakat provinsi ini menyebut dapur dengan istilah Pawaregen. Lokasinya berada di sebelah barat rumah utama dan tidak menyatu. Areanya dibagi menjadi 2, yaitu area untuk menyimpan alat-aat dapur dan area untuk memasak.

Lumbung

lumbung
Sumber: TheMoonDoggies

Lumbung difungsikan sebagai tempat untuk menyimpan bahan pokok bagi masyarakat Bali. Misalnya beras, jagung, umbi atau sejenisnya. Desainnya hampir sama dengan lumbung yang ada di Pulau Jawa.

Itu dia Rumah Adat Bali beserta detail bangunannya. Sekarang kamu jadi lebih tahu kan budaya di Pulau Dewata ini? Semoga bermanfaat ya!

Sumber:

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Bali
  • https://moondoggiesmusic.com/rumah-adat-bali/
  • https://aminama.com/rumah-adat-bali/

Leave a Reply