Asal Mula Persebaran Suku Merauke
Sumber: shafiramega.wordpress.com

8 Legenda dari Papua

Posted on

Tak lengkap rasanya mengenal seluruh legenda daerah yang ada di Indonesia tanpa mengenal legenda yang berasal dari Papua. Provinsi ini mempunyai beberapa koleksi yang tak beda jauh menariknya dari provinsi lain. Seperti halnya legenda asal mula suku-suku di Merauke dan kisah sepasang cenderawasih yang bisa kamu baca selengkapnya dalam 8 legenda Papua berikut.

Asal Mula Persebaran Suku-Suku di Merauke

Asal Mula Persebaran Suku Merauke
Sumber: shafiramega.wordpress.com

Konon, dahulu ada kakek yang dipercaya sebagai orang pertama yang diciptakan oleh Tuhan di wilayahnya. Dia tinggal dengan 2 anjing yang sama-sama diberi nama Nggarembu. Beberapa hari belakangan ini, terjadi keanehan pada Nggarembu yang selalu pergi entah kemana dan pulang dengan perut kenyang.

Hal ini membuat si kakek penasaran dan membuntuti Nggarembu. Kedua anjing itu ternyata masuk ke sebuah pohon enau yang didalamnya sangat ramai sekali suara manusia. Si kakek yang tidak terima dengan hal itu langsung mengambil senjata dari gubuknya dan diam-diam memasuki pohon tersebut.

Di dalam pohon itu, tinggal banyak sekali manusia dari suku berbeda yang dibedakan dari tingkatan tempat tinggalnya. Si kakek yang marah itu pun menghardik semua penghuni pohon dan menyuruh mereka keluar. Dia merasa kalau dia penguasa tempat itu, maka tidak boleh ada yang tinggal seenaknya di wilayahnya.

Si kakek pun menyuruh mereka tinggal di tempat yang ditentukan oleh si kakek. Suku-suku tersebut menurut apa yang dikatakan kakek dan akhirnya dari kejadian ini terbentuklah sebaran suku-suku yang ada di Merauke.

Asal Mula Pohon Kelapa

Asal Mula Pohon Kelapa
Sumber: satujam.com

Cerita ini mengisahkan tentang Cipriw anak dari Biwiripit dan Teweraut yang sangat penakut. Biwiripit, ayah dari Cipriw sangat kesal dengan sifat penakut dari Cipriw sehingga dia terus memaksanya untuk menjadi berani, salah satunya dengan menyuruh Cipriw tidur di suatu tempat khusus laki-laki pada malam hari. Nah, untuk tiba di tempat itu, dia harus melewati pohon beringin yang konon dihuni oleh roh leluhur mereka.

Cipriw yang selalu ketakutan itu menjadi incaran roh tersebut, berhari-hari rasa takutnya tak pernah hilang sehingga roh itu ikut kesal dan membunuh Cipriw. Kematian Cipriw membuat gempar seluruh warga, akhirnya Cipriw dimakamkan di sebuah tempat dan betapa anehnya, muncullah pohon yang tumbuh di atas kuburan Cipriw hingga tumbuh buah yang lebat.

Warga merasa kalau roh dari Cipriw telah diterima oleh leluhurnya, lantas ayah dan ibu Cipriw mendapat petunjuk kalau pohon itu harus diberi nama jisin atau kelapa. Begitulah asal mula pohon kelapa menurut kepercayaan masyarakat Papua.

Legenda Tempayan Menelan Anak

Tempayan Menelan Anak
Sumber: gkisalatiga.org

Legenda ini terjadi di Kampung Maribu pada seorang anak laki-laki bernama Saring. Kedua orang tuanya selalu pergi ke ladang, sementara Saring dititipkan pada neneknya. Di suatu siang yang panas, Saring ingin sekali makan pisang, tetapi saat itu neneknya sedang tidur, sehingga dia mencari sendiri di mana pisang itu.

Mata Saring dikejutkan oleh tempayan yang begitu indah dan di dalamnya terdapat  beberapa pisang. Dengan antusias, Saring melahap pisang-pisang itu hingga kepalanya dia benamkan ke dalam tempayan. Siapa sangka, tiba-tiba tempayan itu bergerak dan tubuh Saring ditelan mentah-mentah oleh tempayan itu.

Si nenek yang mendengar sebuah kegaduhan segera bangkit. Namun, nenek terlambat dan Saring sudah tertelan oleh Tempayan itu. Ketika orang tua Saring datang, mereka juga mengusahakan berbagai cara untuk menyelamatkan anaknya dari tempayan itu. Tapi, usaha tersebut pun sia-sia dan Saring tetap tertelah oleh tempayan itu.

Kisah Dame dan Dufun

Dame dan Dufun
Sumber: dongengceritarakyat.com

Kisah Dame ini memiliki kemiripan dengan kisah Jaka Tarub dan bidadari, dimana Dame menikah dengan Dufun, bidadari kahyangan serta mempunyai 2 anak. Namun, setelah menemukan kembali selendangnya, Dufun kembali ke kahyangan tanpa sepengetahuan Dame.

Dame pun mencari cara untuk meminta maaf kepada Dufung salah satunya dengan meminta pertolongan burung bangau yang mampu mengantarkannya ke gerbang langit. Di istana langit, Dame disidang serta diberikan 3 syarat sebelum dia bisa menemui istrinya. Dame yang cerdik itu pun berhasil menempuh 3 syarat tadi. Akhirnya, dia bersama istrinya diizinkan kembali lagi ke bumi dan mereka hidup berbahagia.

Kisah Konwuk dan Konweng

Konwuk dan Konweng
Sumber: blog.airpaz.com

Kisah ini mengisahkah tentang dua saudara Konwuk dan Konweng. Pada suatu waktu setelah mencari sagu, mereka bertemu dengan laki-laki bernama Anaweang. Konwuk dan Anaweang jatuh cinta dan tak lama menikah setelah mengenal satu sama lain. Anehnya, jika sebelum Konwuk menikah, dia begitu baik kepada Konweng. Tetapi, selepas menikah justru dia menjadi kejam dengan adiknya sendiri.

Ini membuat Konweng begitu sedih dan memutuskan untuk mencelakai Konwuk dengan cara menjebaknya hingga terluka oleh duri-duri. Dalam peristiwa itu, lidah Konweng justru bisa menjulur begitu panjang hingga ke atas langit. Dengan lidah itulah, Konweng naik ke atas langit, dan konon menjadi bulan.

Sementara itu, Konwuk merasa begitu bersalah, dia menangisi kepergian Konweng. Namun, apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur, Konweng yang sudah kesal itu pun kadung kesal dengan Konwuk dan meninggalkannya.

Patung Mbis

Patung Mbis
Sumber: artworld.indeksnews.com

Mbis, bunga desa yang amat cantik itu menjalani hidup pernikahan dengan Bawarco yang selalu saja mengurung dirinya hingga jadi kurus kering dan tak cantik lagi. Kedua orang tuanya yang tak tega dengan Mbis pun membawa kabur anaknya ke sebuah bukit yang jauh dari Bawarco.

Di bukit tersebut, seekor burung kasuari menolong Mbis dan menjodohkannya dengan seorang pemahat bernama Nearkaw. Berbeda dengan Bawarco, Nearkaw justru mengabadikan kecantikan Mbis dalam sebuah patung. Hanya saja, Mbis sudah lebih dulu menemui ajalnya sebelum patung itu jadi. Akan tetapi, patung tersebut sekarang masih ada dan dikeramatkan oleh suku Asmat.

Asal Mula Wamena

Asal Mula Wamena
Sumber: egindo.co

Pada masa dulu, ada daerah bernamakan Ahumpua dimana masyarakatnya setiap hari menyuruh anak gadisnya untuk menjaga babi di pinggiran Kali Baliem. Suatu hari, datanglah Ap Huluan atau orang berkulit putih yang lewat dan melihat para gadis yang menunggui babi.

Kemudian, Ap Huluan itu bertanya kepada gadis tersebut apa nama daerah itu. Namun, para gadis yang tak mengerti bahasanya mengira kalau Ap Huluan bertanya tentang babi. Jadi, si gadis itupun menjawab ‘Tu Wamena’ yang berarti itu adalah anak babi jinak. Beberapa tahun kemudian, saat tentara belanda memasuki wilayah itu, mereka pun menyebut tempat itu sebagai Wamena.

Kisah Sepasang Burung Cenderawasih

Sepasang Cenderawasih
Sumber: burungnya.com

Di daerah bagian barat Papua, tinggallah Bertha dengan ibunya yang hidup dalam kemiskinan. Ditambah lagi wajah Bertha yang buruk rupa membuatnya selalu dirundung oleh banyak orang. Bertha setiap harinya selalu mencari bunga dan buah di gunung untuk dijual kepada warga. Dia begitu senang berteman dengan hewan-hewan dan tumbuhan di gunung daripada berteman dengan manusia.

Suatu hari, dia bertemu dengan burung cenderawasih yang begitu indah bulunya. Burung itu ternyata dapat bicara dan entah kenapa malah Bertha jatuh cinta dengan burung tersebut. Si burung itu melamar Bertha dan mengatakan kalau Bertha bisa tinggal bersamanya dan menjadi burung saja. Namun, Bertha masih berat hati karena harus meninggalkan ibunya.

Oleh karena itu, Bertha pun meminta izin pada ibunya. Anehnya, ibunya pun merestui tanpa banyak kata. Keesokan paginya Bertha menemui si burung dan berubahlah dia menjadi burung cenderawasih yang berbulu sangat elok. Ahirnya, sepasang burung itu pun hidup bahagia.

Itu dia 8 legenda yang berasal dari Papua yang sudah selesai diceritakan sesuai dengan cerita yang berkembang di masyarakat. Kamu juga bisa membaca legenda-legenda lain yang berasal dari Indonesia, supaya semakin memperkaya dan meningkatkan kecintaanmu kepada budaya di Indonesia.

Sumber:

Widodo, Supriyanto. (2010). Cerita Rakyat Papua Terpilih. Balai Bahasa Jayapura Kementerian Pendidikan Nasional dan Penerbit CV. Prasasti.

Leave a Reply