Daftar Isi [hide]
Perjuangan di Bangku SMA
Langkah Awal di Papan Peringkat
Suasana SMA Cendekia Nusantara selalu ramai setiap pagi. Murid-murid berlarian di lorong, beberapa masih mencoba menghafal materi sebelum bel berbunyi, sementara yang lain sibuk bercanda dengan teman-temannya. Namun, di tengah keriuhan itu, seorang pemuda dengan ransel penuh buku berjalan dengan langkah cepat menuju kelasnya. Arka Sanjaya, nama yang selalu menghiasi papan peringkat akademik sekolah.
Pagi itu, pengumuman nilai ujian tengah semester terpampang di papan informasi dekat ruang guru. Seperti biasa, banyak siswa yang berkerumun di depan daftar nilai, saling menebak siapa yang menempati posisi pertama kali ini.
“Coba tebak, Nadira sama Arka pasti masih di peringkat atas, kan?” bisik seorang siswa.
“Aku taruhan, Nadira yang menang kali ini!” timpal yang lain.
Tak lama kemudian, seorang gadis berdiri di depan daftar nilai dengan tangan terlipat di dada. Nadira Asmara, satu-satunya saingan Arka sejak mereka masuk sekolah ini. Dia membaca daftar itu dengan mata menyipit, lalu mendengus pelan.
“Arka lagi…” gumamnya, sebelum berbalik dan mendapati sosok pemuda itu berdiri tak jauh darinya.
Arka melihat ke daftar itu sekilas, lalu kembali menatap Nadira. “Aku menang lagi,” katanya dengan nada tenang, tapi jelas ada sedikit nada menggoda di sana.
Nadira memutar matanya, lalu menyilangkan tangan. “Kali ini cuma selisih 0,3 poin, Arka. Jangan terlalu senang dulu.”
Arka hanya mengangkat bahu. “Tapi tetap menang, kan?”
Nadira mendengus. “Lihat saja ujian akhir nanti. Aku bakal balas.”
Persaingan antara mereka sudah berlangsung sejak SMP, dan tidak ada yang pernah benar-benar mendominasi. Kadang Arka menang, kadang Nadira. Tapi mereka berdua tahu, persaingan ini bukan sekadar soal angka di kertas, melainkan sesuatu yang lebih dari itu—ambisi untuk membuktikan diri.
Di Balik Papan Peringkat
Meski selalu masuk daftar siswa terbaik, hidup Arka jauh dari kata mudah. Setelah pulang sekolah, dia tidak seperti siswa lainnya yang bisa langsung bersantai atau pergi les privat. Begitu tiba di rumah, dia akan meletakkan tasnya, berganti pakaian, lalu membantu ibunya menjahit pesanan pelanggan.
Di ruang tamu yang kecil, ibunya, Bu Santi, duduk di depan mesin jahit dengan wajah lelah tapi tetap tersenyum ketika melihat putranya pulang.
“Gimana sekolahnya?” tanyanya, sementara tangannya masih sibuk dengan kain.
“Masih sama, Ma. Aku dapat peringkat satu lagi,” jawab Arka sambil mengambil segelas air.
Senyum di wajah ibunya semakin lebar. “Alhamdulillah… Mama bangga.”
Arka hanya mengangguk. Dia tahu ibunya selalu berusaha terlihat kuat, tapi dia juga tahu kondisi keluarga mereka. Ayahnya bekerja sebagai buruh pabrik dengan gaji pas-pasan, dan ibunya menjahit untuk menambah penghasilan. Sejak kecil, Arka sudah terbiasa dengan keterbatasan, tapi itu tidak pernah menjadi alasan untuk menyerah.
Malam itu, setelah membantu ibunya, Arka kembali ke meja belajarnya yang kecil. Di depan buku-bukunya, dia berpikir tentang masa depan. Satu-satunya cara agar hidupnya berubah adalah melalui pendidikan. Dan dia tidak akan membiarkan apa pun menghalangi itu.
Hari-Hari Penuh Persaingan
Keesokan harinya, di kelas, guru matematika baru saja membagikan lembar tugas ketika Nadira melirik ke arah Arka.
“Berani taruhan siapa yang selesai duluan?” katanya dengan nada menantang.
Arka menoleh sekilas. “Aku nggak suka taruhan, tapi kalau kamu mau lihat siapa yang lebih cepat, ya silakan.”
Nadira terkekeh. “Kita lihat nanti, jenius.”
Mereka berdua mulai mengerjakan soal, dan seperti biasa, keduanya adalah yang pertama selesai. Beberapa teman sekelas hanya bisa menggeleng-geleng melihat mereka.
Di luar kelas, seorang teman Arka, Reza, menepuk pundaknya. “Bro, lo sama Nadira itu kayak Tom & Jerry. Tapi jujur, lo pernah mikir nggak sih kalau dia sebenernya respect sama lo?”
Arka menghela napas. “Respect atau nggak, aku nggak peduli. Yang penting aku tetap fokus ke tujuanku.”
Reza tertawa. “Keras kepala banget.”
Arka hanya tersenyum tipis. Dia tahu, persaingan dengan Nadira memang tidak bisa dihindari. Tapi bagi Arka, persaingan ini lebih dari sekadar rivalitas. Ini adalah langkah kecil menuju masa depan yang lebih baik.
Dan dia belum berniat untuk kalah.
Tekanan dan Cobaan
Hari-hari di SMA Cendekia Nusantara semakin sibuk. Semester akhir sudah di depan mata, dan semua siswa berlomba-lomba memperbaiki nilai mereka. Tapi bagi Arka, perjuangannya bukan hanya soal akademik—hidupnya semakin berat.
Malam-malamnya semakin panjang. Sepulang sekolah, ia masih harus membantu ibunya menjahit, lalu belajar hingga larut malam. Tubuhnya mulai lelah, tapi pikirannya tidak bisa berhenti. Ada satu hal yang membuatnya terus maju: seleksi beasiswa ke Jepang.
Pengumuman seleksi itu membuat seluruh sekolah heboh. Beasiswa ini hanya diberikan kepada satu siswa terbaik untuk melanjutkan kuliah di salah satu universitas ternama di Jepang. Kesempatannya sangat kecil, tapi Arka tahu—ini adalah jalan keluarnya. Jika dia bisa mendapatkannya, maka masa depannya akan terjamin.
Namun, ada satu hal yang menghalangi: Nadira juga mengincarnya.
Persaingan yang Semakin Panas
Di ruang kelas yang hening, Nadira duduk di meja belakang, menatap brosur beasiswa yang ada di tangannya. Sementara di depan, Arka menyalin catatan dengan serius.
Tanpa menoleh, Nadira membuka suara, “Jadi… kamu bakal ikut seleksi beasiswa itu?”
Arka tetap menulis. “Ya.”
Nadira menyandarkan punggungnya ke kursi. “Berarti kita bakal bersaing lagi.”
Arka akhirnya menoleh. “Kapan sih kita nggak bersaing?”
Nadira tertawa kecil. “Iya juga sih.” Lalu, dia menutup brosurnya dan menatap Arka. “Tapi seleksi ini beda, Ka. Cuma ada satu pemenang. Kalau aku menang, kamu kalah. Kalau kamu menang, aku yang kalah.”
Arka mengangguk. “Ya, aku tahu.”
Mereka saling pandang untuk beberapa detik, lalu Nadira tersenyum kecil. “Siap-siap aja. Aku nggak bakal gampang dikalahin.”
Arka menghela napas, tapi di dalam hatinya, dia merasa tantangan ini lebih berat dari sebelumnya.
Tekanan yang Semakin Berat
Hari-hari Arka semakin sibuk. Ia menghabiskan waktu di perpustakaan, membaca buku-buku tambahan untuk seleksi. Bahkan, di rumah, ia membawa catatannya ke meja jahit ibunya, menghafal materi sambil membantu memotong kain.
Tapi sesuatu yang buruk terjadi.
Suatu malam, ketika Arka sedang membaca di meja belajarnya, suara dering telepon membuatnya menoleh. Ibunya yang menjawab, tapi dalam beberapa detik wajahnya langsung pucat.
“Arka… Ayahmu kecelakaan kerja.”
Dunia Arka seakan berhenti. Ia segera berlari keluar rumah, naik ke motor pamannya, dan meluncur ke rumah sakit.
Di ruang gawat darurat, ia melihat ayahnya terbaring dengan perban di kepala dan lengan yang terbalut gips. Ibunya berdiri di samping tempat tidur dengan mata berkaca-kaca.
Dokter berkata bahwa ayahnya harus dirawat selama beberapa minggu, dan itu berarti penghasilan keluarga mereka semakin berkurang.
Saat itu, sesuatu menghantam Arka—apakah dia masih punya waktu untuk memikirkan beasiswa?
Dilema di Persimpangan
Hari-hari setelahnya menjadi lebih sulit. Arka harus membagi waktunya antara sekolah, membantu ibunya, dan merawat ayahnya di rumah sakit. Ia hampir tidak punya waktu untuk belajar.
Suatu sore, di perpustakaan, Nadira menemukannya tertidur di atas buku-bukunya. Ia mengerutkan kening, lalu duduk di depan Arka sambil mengetuk meja pelan.
Arka terbangun dengan kaget. “Hah? Udah jam berapa?”
“Masih sore,” jawab Nadira, menatapnya. “Kamu kenapa, sih? Kelihatan kayak mayat hidup.”
Arka mengusap wajahnya. “Aku… lagi banyak urusan.”
Nadira memperhatikannya, lalu menyilangkan tangan. “Dengar, Ka. Aku nggak pernah lihat kamu sekacau ini sebelumnya. Apa ada yang salah?”
Arka diam. Sebagian dari dirinya ingin bercerita, tapi sebagian lagi merasa gengsi. Akhirnya, dia hanya menggeleng. “Nggak ada. Aku cuma kecapekan.”
Nadira mendesah, lalu menyandarkan kepalanya ke meja. “Kalau kamu beneran capek, istirahatlah. Tapi aku nggak mau menang di seleksi ini cuma karena kamu lagi down. Aku mau kita bersaing dengan adil.”
Arka menatap Nadira sebentar, lalu tersenyum tipis. “Jadi kamu mau aku tetap ikut seleksi, gitu?”
Nadira mengangkat bahu. “Ya iyalah. Kalau kamu mundur, siapa lagi yang bisa bikin aku termotivasi?”
Arka terkekeh pelan. Meskipun dirinya sedang berada di titik terendah, kata-kata Nadira seakan memberinya sedikit dorongan.
Tapi pertanyaannya masih ada di dalam kepalanya—bisakah dia tetap berjuang di tengah semua tekanan ini?
Keputusan di Antara Persaingan
Hari-hari berlalu dengan cepat. Seleksi beasiswa tinggal dua minggu lagi, tetapi kehidupan Arka masih berantakan. Ayahnya masih dalam pemulihan, ibunya bekerja lebih keras, dan Arka harus membagi waktunya di antara sekolah, rumah sakit, serta pekerjaan sambilan di bengkel pamannya.
Tidurnya semakin sedikit. Konsentrasinya menurun. Dan yang paling parah, ia merasa semakin jauh dari tujuan yang selama ini ia kejar.
Di sekolah, Arka masih terlihat berusaha, tetapi Nadira menyadari sesuatu—rivalnya ini sudah tidak seperti biasanya. Tidak ada lagi sindiran-sindiran tajam setiap kali mereka bertemu di papan peringkat, tidak ada lagi aura penuh semangat yang selalu muncul dalam persaingan mereka.
Arka yang dulu ia kenal, yang selalu punya jawaban untuk setiap soal sulit, kini hanya tampak lelah dan kosong.
Titik Terendah
Di perpustakaan, Arka duduk sendirian dengan buku di depannya, tetapi matanya tidak benar-benar membaca. Nadira mendekatinya dan tanpa permisi duduk di seberangnya.
“Kamu nggak bisa terus begini, Ka.”
Arka mengangkat kepalanya. “Hah?”
Nadira menyilangkan tangan. “Udah dua minggu lebih kamu kelihatan kayak zombie. Aku serius. Kamu bahkan nggak ikut latihan wawancara seleksi beasiswa kemarin.”
Arka menghela napas panjang dan menutup bukunya. “Aku nggak tahu, Nad. Aku udah nyoba, tapi… aku nggak bisa fokus. Di rumah banyak masalah, aku juga harus bantu ibu. Pikiran aku nggak cuma soal sekolah.”
Nadira terdiam sebentar. Baginya, mendengar Arka berbicara seperti itu terasa aneh. Selama ini, dia selalu melihat Arka sebagai seseorang yang tak tergoyahkan. Seseorang yang selalu punya solusi untuk segalanya.
Tapi sekarang? Arka terlihat seperti seseorang yang hampir menyerah.
Nadira menatapnya dalam-dalam, lalu berkata, “Aku bisa bantu.”
Arka tertawa kecil, tapi tanpa rasa humor. “Bantu gimana? Mau bayar biaya rumah sakit ayahku?”
Nadira tetap menatapnya dengan serius. “Aku nggak bisa bantu semuanya, tapi aku bisa pastiin kamu tetap ikut seleksi ini.”
Arka mendengus. “Kenapa sih kamu peduli? Bukannya kita saingan?”
Nadira menyandarkan punggungnya ke kursi. “Karena aku tahu kamu layak dapat kesempatan ini. Dan aku nggak mau menang cuma karena kamu lagi jatuh.”
Arka terdiam. Dia ingin merasa tersentuh, ingin berterima kasih, tapi di dalam kepalanya, semua masih berantakan.
Pilihannya Semakin Sempit
Seminggu sebelum seleksi, kepala sekolah memanggil Arka ke ruangannya. Begitu masuk, ia melihat Nadira juga ada di sana.
Pak Surya, kepala sekolah, menatap mereka dengan ekspresi serius. “Kalian berdua adalah kandidat terkuat untuk beasiswa ini. Tapi saya dengar kabar bahwa, Arka, kamu mengalami kesulitan belakangan ini.”
Arka menelan ludah. Ia melirik Nadira sekilas, seakan meminta kepastian bahwa gadis itu bukan penyebab ia dipanggil ke sini.
Pak Surya melanjutkan, “Saya ingin bertanya langsung padamu. Apa kamu yakin bisa mengikuti seleksi ini?”
Arka menggenggam tangannya di atas meja. Pikirannya berputar. Ini adalah kesempatan yang telah ia perjuangkan selama ini. Tapi di sisi lain, ia tidak bisa mengabaikan keluarganya.
Di detik itu, ia sadar satu hal—dia harus membuat pilihan.
Keputusan yang Mengubah Segalanya
Keesokan harinya, di halaman sekolah, Nadira berdiri menunggu Arka dengan cemas.
Tak lama kemudian, pemuda itu muncul dengan ekspresi datar.
“Kamu dipanggil kepala sekolah lagi?” tanya Nadira.
Arka mengangguk pelan. “Aku udah buat keputusan.”
Nadira menegakkan tubuhnya. “Dan?”
Arka menarik napas panjang. “Aku tetap ikut seleksi.”
Nadira terdiam, lalu akhirnya tersenyum kecil. “Bagus. Itu jawaban yang aku harapkan.”
Tapi sebelum Nadira bisa mengatakan lebih banyak, Arka menambahkan, “Tapi kalau kamu menang, aku nggak akan kecewa.”
Nadira menatapnya dengan heran. “Hah?”
“Aku sadar, Nad,” kata Arka dengan suara lebih tenang dari sebelumnya. “Dulu aku pikir persaingan ini adalah segalanya. Aku harus menang, harus lebih unggul. Tapi setelah semua yang aku lalui… aku ngerti satu hal.”
Nadira menunggu jawabannya.
Arka tersenyum kecil. “Menang atau kalah di seleksi ini nggak akan menentukan masa depan aku. Aku tetap bisa sukses, apa pun hasilnya.”
Untuk pertama kalinya, Nadira tidak bisa berkata-kata. Arka, orang yang selalu berambisi mengalahkannya, akhirnya bisa melihat lebih jauh dari sekadar papan peringkat.
Dan di dalam hatinya, ia tahu—ini bukan hanya soal siapa yang menang. Ini soal perjalanan mereka berdua.
Masa Depan yang Baru
Hari seleksi beasiswa akhirnya tiba. Aula sekolah disulap menjadi ruang ujian, dengan meja-meja yang berjajar rapi. Hanya ada sepuluh siswa yang lolos ke tahap akhir, dan di antaranya, dua nama paling menonjol—Arka dan Nadira.
Suasana tegang terasa di udara. Semua peserta berusaha menyembunyikan rasa gugup mereka, tapi bagi Arka, ini lebih dari sekadar seleksi. Ini adalah puncak dari semua perjuangan, tekanan, dan pilihan yang ia buat.
Di sampingnya, Nadira menatap lurus ke depan. Tidak ada kata-kata, tidak ada sindiran seperti biasa. Hanya satu tatapan yang penuh arti. Mereka berdua tahu—apa pun hasilnya, ini adalah akhir dari persaingan panjang mereka.
Seleksi yang Menentukan
Ujian tertulis berlangsung selama tiga jam penuh. Setelah itu, peserta harus menjalani tes wawancara dengan juri dari pihak sekolah dan perwakilan universitas Jepang.
Saat nama Arka dipanggil, dia menarik napas dalam dan melangkah masuk ke ruang wawancara.
Di dalam, ada tiga orang juri yang duduk di belakang meja panjang. Salah satu dari mereka, seorang profesor dari universitas Jepang, menatapnya dengan senyum ramah.
“Arka Sanjaya, ceritakan kepada kami, apa yang membuat kamu pantas mendapatkan beasiswa ini?”
Arka sempat berpikir untuk memberikan jawaban yang sudah ia latih berulang kali. Tentang prestasi, ambisi, dan dedikasinya dalam belajar. Tapi tiba-tiba, semua yang ia alami belakangan ini terlintas di pikirannya.
Jadi, dia memilih untuk jujur.
“Saya ingin beasiswa ini karena pendidikan adalah satu-satunya jalan bagi saya untuk mengubah hidup saya dan keluarga saya,” katanya dengan suara mantap. “Saya berasal dari keluarga sederhana, dan saya tahu bahwa kesempatan seperti ini adalah sesuatu yang tidak bisa saya sia-siakan.”
Para juri mendengarkan dengan saksama.
“Tapi dalam beberapa minggu terakhir, saya menyadari bahwa nilai akademik bukan satu-satunya yang menentukan masa depan seseorang. Saya belajar bahwa kegagalan, tekanan, bahkan kehilangan, adalah bagian dari perjalanan. Dan saya siap menghadapi semuanya.”
Salah satu juri mengangguk pelan. “Itu jawaban yang sangat jujur, Arka.”
Setelah beberapa pertanyaan lain, wawancara pun selesai. Arka keluar dari ruangan dengan perasaan lega, meski belum tahu apakah itu cukup untuk membuatnya menang.
Di luar, Nadira sudah menunggu.
“Gimana?” tanyanya.
Arka menghela napas, lalu tersenyum. “Entahlah. Tapi aku udah jawab semuanya dengan jujur.”
Nadira menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil. “Bagus. Karena aku juga gitu.”
Mereka berdua tertawa kecil, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah persaingan mereka, tidak ada lagi beban untuk saling mengalahkan.
Pengumuman yang Mengubah Segalanya
Seminggu kemudian, seluruh siswa dikumpulkan di aula untuk mendengar pengumuman pemenang beasiswa. Kepala sekolah berdiri di podium dengan amplop di tangannya.
“Setelah melalui proses seleksi yang ketat, kami akhirnya memilih satu siswa terbaik yang akan mendapatkan beasiswa penuh ke Jepang.”
Arka merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Di sampingnya, Nadira menggenggam ujung roknya dengan gugup.
Kepala sekolah membuka amplop, lalu membaca nama yang tertulis di dalamnya.
“Pemenang beasiswa tahun ini adalah… Nadira Asmara.”
Seluruh aula riuh dengan tepuk tangan. Nadira membeku sejenak, sebelum akhirnya berdiri dengan mata berkaca-kaca.
Arka menoleh ke arahnya, lalu tersenyum. “Selamat, Nad.”
Nadira menatapnya, seolah ingin memastikan bahwa Arka benar-benar tulus. Setelah beberapa detik, dia membalas dengan senyum lebar. “Makasih, Ka.”
Saat Nadira naik ke panggung untuk menerima sertifikat, Arka duduk diam di bangkunya. Dia tidak merasa kecewa seperti yang ia bayangkan dulu. Justru, ada rasa damai dalam hatinya.
Karena ia tahu—kalah di sini bukan berarti kalah dalam hidup.
Masa Depan yang Baru
Beberapa hari setelah pengumuman, Nadira menghampiri Arka di halaman sekolah.
“Aku masih nggak percaya aku yang menang,” katanya sambil mengayun-ayunkan tasnya.
Arka tersenyum. “Aku percaya. Kamu memang pantas.”
Nadira menatapnya serius. “Tapi aku masih punya satu pertanyaan.”
Arka mengangkat alis. “Apa?”
“Setelah ini… apa rencanamu?”
Arka menatap langit yang mulai berubah warna di sore hari. Dulu, mungkin ia akan merasa kehilangan arah. Tapi sekarang, ia tahu jawabannya.
“Aku bakal tetap kuliah. Mungkin nggak di Jepang, tapi aku pasti akan menemukan jalanku sendiri.”
Nadira tersenyum puas. “Bagus. Karena aku nggak mau dengar kamu nyerah.”
Mereka berdua saling berpandangan sebentar, lalu tertawa. Persaingan mereka mungkin telah berakhir, tapi perjalanan mereka baru saja dimulai.
Dan bagi Arka, ini bukanlah akhir—ini adalah awal dari masa depan yang baru.