7 Legenda dari Sumatra Utara

Posted on

Beberapa orang akhirnya memutuskan untuk menengok kembali kampung mereka dan betapa mengenaskannya justru yang mereka lihat adalah kampung yang sunyi. Hal ini membuat mereka menangis dan tercetus lah nama Simalungun yang berarti sunyi dan sepi.

Danau Lau Kawar

Danau Lau Kawar
Sumber: passgal.blogspot.com

Kisah legenda danau Lau Kawar mulanya berasal dari desa bernama Kawar. Desa tersebut tergolong sebagai desa dengan hasil tani yang melimpah. Pada suatu masa, atas melimpahnya hasil tani mereka, masyarakat desa membuat sebuah perayaan sebagai simbol rasa syukur.

Ditengah perayaan yang begitu menggembirakan itu, ada seorang nenek yang sakit dan terbaring lemas di kamarnya. Anak dan cucunya ikut menghadiri pesta dan tidak tahu menahu jika nenek tersebut sedang terkulai lemas dan kelaparan. Si anak dari nenek sebenarnya ingat jika ibunya belum makan dan berinisiatif menyuruh anaknya (cucu nenek) untuk mengirimkan makanan pada nenek itu.

Akan tetapi, si cucu ternyata memakan hampir semua daging yang dibungkuskan untuk neneknya. Sehingga, saat nenek menerima makanan itu, yang ada hanya sisa-sisa daging dan tulangnya. Atas perlakuan anak dan cucunya ini, si nenek begitu berduka dan memohon agar Tuhan menghukum mereka. Selepas ucapan nenek itu, terjadi gempa bumi, langit tiba-tiba menghitam, serta turun hujan deras. Hujan ini pun menenggelamkan seluruh penduduk desa dan jadilah desa itu menjadi Danau Lau Kawar. Bukan lagi Desa Lau Kawar.

Si Baroar

Legenda si Baroar
Sumber: ceritarakyatnusantara.com

Di Mandailing, Sumatra Utara, Sultan Pulungan yang memimpin kerajaan Huta Bargot menemukan bayi laki-laki saat ia berburu. Bayi tersebut ia serahkan kepada janda bernama Saua yang mendambakan anak sejak dulu. Lantas, bayi itu juga diberi nama si Baroar yang berarti kandang anjing. Alasan pemberian nama itu tidak lain karena Baroar ditemukan di kandang anjing.

Saat Baroar dewasa, siapa sangka ternyata wajah dan perawakannya begitu mirip dengan anak Sultan Pulungan. Kemiripan wajah ini membuat Baroar sering disangka sebagai putra raja. Hal ini tentu membuat Sultan jengkel dan ingin membunuh Baroar. Ia lalu menyuruh anak buahnya untuk membunuh Baroar. Namun, rencana yang telah disusun itu harus gagal karena para anak buah justru membunuh putra raja.

Semakin kesal, raja tetap menyuruh para anak buahnya untuk memburu Baroar. Untungnya, Baroar dan ibu angkatnya tetap bisa menyelamatkan diri meninggalkan kerajaan. Beberapa tahun setelahnya, tersiar kabar jika Baroar mampu mendirikan kerajaan. Banyak yang berpendapat kalau anak turun Baroar adalah orang yang bermarga Nasution.

Batu Gantung Parapat

Batu Gantung Parapat
Sumber: goodnewsfromindonesia.id

Legenda Batu Gantung Parapat ini didasari oleh penolakan seorang gadis yang akan dijodohkan oleh orang tuanya. Orang tua dari si gadis memang tak pernah mendengarkan penolakan anaknya, sehingga hal ini membuat anaknya merasa terluka dan memilih untuk lari ke hutan saat orang tuanya ke ladang. Saking cepatnya si gadis itu berlari, dia tidak sadar kalau dia akan masuk ke lubang. Saat sudah terperosok ke dalam lubang, si gadis menangis tersedu dan berbisik agar batu di dekat lubang itu menutup.

Anjing peliharaan si gadis yang sebelumnya mengikuti si gadis segera lari menuju ke orang tuanya dan menunjukkan kalau gadis itu telah terjatuh dan terimpit batu. Sayangnya, saat orang tuanya mencoba menolong, si gadis tetap tak ingin kembali karena perjodohan itu. Batu itu pun akhirnya tertutup rapat. Setelah terjadi gempa di daerah Danau Toba, munculnya batu yang bergantung menyerupai tubuh manusia.

Legenda Sigale-Gale

Sigale-gale
Sumber: bisniswisata.co.id

Sigale-gale dalam rakyat Samosir dikenal sebagai patung yang bergerak dengan gemulai dan mampu membuat orang yang menontonnya tergelak bahagia. Legenda ini berasal dari seorang raja yang kehilangan anaknya. Kemudian, dia menyuruh seorang ahli pahat untuk membuatkan patung yang mirip dengan anaknya.

Baca juga: Tarian Adat Kalimantan Utara

Sang raja juga meminta kepada Sibaso untuk membuat agar patung tersebut seolah-olah mempunyai kehidupan sehingga dapat bergerak. Dengan adanya patung ini, sang raja menjadi lebih terhibur. Tradisi ini pun berlanjut dimana saat ada seorang yang meninggal, maka patung Sigale-gale ini akan dibuat.


Sumber:

Damayanti, Astri. (2010). Kumpulan Legenda Nusantara Favorit. Depok: Penerbit Indria Pustaka.

Nuralia.L, Imadudin.I. (2009). Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Terpopuler. Bandung: Penerbit Ruang Kata.

Histori.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *