8 Legenda dari Sumatra Selatan

Posted on

Legenda si pahit lidah bermula dari seorang pangeran bernama Serunting. Pangeran punya kesaktian yang membuat tidak ada orang yang bisa mengalahkannya. Serunting mempunyai adik ipar bernama Arya Tebing. Mereka memiliki sawah yang saling berdampingan. Hanya saja, Serunting selalu merasa iri dengan Arya Tebing hingga mereka berselesih.

Arya Tebing pun pesimis jika dia dapat mengalahkan Serunting. Oleh karena itu, dia meminta petunjuk pada istri Serunting yang tidak lain adalah kakaknya. Akhirnya, Arya Tebing mampu mengalahkan Serunting. Serunting begitu kecewa dengan penghianatan istrinya. Dia ingin membalas dendam, lalu tiba-tiba dia mendapat petunjuk untuk bertapa di bawah pohon bambu sampai tubuhnya dipenuhi daun bambu.

Dua tahun setelahnya, tubuh Serunting sudah dipenuhi daun dan dia menyelesaikan semedianya. Serunting pun mencoba kekuatannya dengan mengutuk pohon tebu menjadi batu. Setelah meyakini jika dia telah punya kekuatan, oleh karena ucapannya itu yang serupa kutukan, maka legenda ini diberi nama si pahit lidah.

Goa Putri

Goa Putri
Sumber: ksmtour.com

Legenda Goa Putri ini sebenarnya masih berhubungan dengan legenda si pahit lidah. Di suatu daerah di Sumatra Selatan, ada seorang putri bernama Dayang Merindu. Putri ini menjadi selir Prabu Amir Rasyid. Putri tersebut sedang mandi di Sungai Semuhun, lalu si pahit lidah yang bernama Serunting itu tiba-tiba lewat dan melihat Dayang Merindu.

Baca juga: Legenda Aceh

Melihat cantiknya Dayang Merindu, Serunting sempat tertarik. Akan tetapi, saat Serunting mencoba memanggil Dayang, dia tak mau mengindahkan Serunting. Lalu, dia pun berujar kalau si Dayang Merindu itu sombong seperti batu. Tak butuh waktu lama, Dayang Merindu justru berubah menjadi batu. Serunting pun melanjutkan perjalanannya ke desa Dayang Merindu, dilihatnya desa tersebut sangat sepi. Dia pun berujar lagi kalau desa itu sepi seperti goa. Berubahlah desa itu menjadi goa yang dinamai Goa Putri.

Legenda Cinta Jaka dan Hasnah

Legenda Jaka dan Hasnah
Sumber: indonesiakaya.com

Cerita cinta Jaka dan Hasnah tidak akan kalah dengan kisah Romeo dan Juliet. Jaka dan Hasnah merupakan sepasang kekasih yang saling mencintai. Saat akan menikah, Jaka sadar jika dia tidak mempunyai cukup uang untuk menikahi Hasnah. Dia pun berusaha lebih keras dengan merantau ke jauh ke negeri yang lain.

Namun, saat Jaka sedang merantau, ada seorang pedagang yang datang ke daerah tempat tinggal Hasnah di Empat Lawang. Dia terkesima dengan cantiknya Hasnah dan berencana untuk menikahinya. Hasnah tentu menolak karena dia sudah berjanji tak akan meninggalkan Jaka. Pedagang itu sangat kecewa dengan penolakan Hasnah, dia terus mengancam Hasnah dan siapapun yang akan menghalangi rencananya agar mau menikahi Hasnah.

Di tengah ancaman dari pedagang itu yang tiada henti, Jaka pulang dari perantauannya dan mendapat kabar tersebut. Ia pun mengajak si pedagang bertarung dan untungnya Jaka bisa memenangkan pertikaian itu. Jaka dan Hasnah pun menikah disambut dengan gembira oleh warga sekitarnya.

Legenda Ikan Patin

Legenda Ikan Patin
Sumber: longseng.com.my

Ikan patin menjadi salah satu ikan yang khas di daerah Sumatra Selatan. Adanya ikan ini ternyata memiliki legenda tersendiri. Mulanya, ada sebatang kara yang tinggal di pinggiran sungai bernama Awang Gading. Pekerjaan sehari-harinya adalah mencari ikan di sungai. Saat sedang perjalanan kembali dari sungai, dia menemukan bayi perempuan yang lantas diberi nama Dayang Kumunah.

Ketika Dayang Kumunah tumbuh dewasa, seorang laki-laki bernama Awangku Usop jatuh cinta dan meminangnya. Tak lama, setelah pernikahan mereka, Awang Gading meninggal. Dayang Kumunah begitu sedih atas kepergian ayah angkatnya. Namun, kesedihan itu cepat tergantikan oleh kehadiran anak-anaknya. Sebenarnya, ada satu hal yang mengganjal di benak Usop, dia sampai saat ini tak pernah melihat Dayang Kumunah tertawa. Penasaran dengan hal itu, dia lantas membuat lelucon agar Dayang Kumunah tertawa.

Namun, betapa kagetnya saat yang ia lihat justru insang ada di mulut Dayang Kumunah. Merasa malu dengan hal itu, ia segera lari ke sungai dan berubah menjadi ikan. Awangku Usop pun bertekad ia tidak akan memakan ikan tersebut. Hingga kini, orang yang berasal dari turunan Awangku Usop tidak memakan ikan dengan jenis tersebut yaitu ikan patin.

Baca juga: Legenda Sumatra Utara

Nah, setelah membaca legenda dari Sumatra Selatan di atas, terlihat bukan jika Sumatra Selatan bukan hanya terkenal oleh makanan dan wisata khasnya. Dari 8 legenda yang ada tadi, cerita-ceritanya turut memberikan nilai-nilai sejarah akan suatu tempat wisata dan makanan khas Sumatra Selatan seperti ikan patin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *