8 Legenda dari NTT

Posted on

Baca juga: 8 Legenda NTB

Setiap waktu dia mengunjungi kebun itu dan bercengkerama dengan jagung-jagung itu seolah sedang berinteraksi dengan anaknya. Hingga suatu hari, sang ibu berkata jika dia sudah ikhlas dengan pengorbanan anaknya, sembari dia berharap jika pengorbanan anaknya ini bias menolong seluruh umat manusia.

Tangga Loi dan Oemau

Tangga Loi dan Oemau
Sumber: medium.com

Di masa dahulu di Rote Ba’a, terjadi kekeringan yang menyebabkan dua orang pemuda, Mau dan Angga tak bisa bekerja di ladang. Mereka memutuskan untuk mencari sumber air yang baru di suatu tempat. Namun, setelah perjalanan panjang, mereka tertidur hingga esok hari.

Keesokan harinya, mereka berdua mendapati kalau kaki kedua anjingnya berlumpur, menandakan jika mereka telah menemukan sumber air. Lantas, mereka mencoba mencari-cari sumber air itu. Ditemukanlah dua sumber air sekaligus yang kemudian mereka namai Tangga Loi yang berasal dari nama Angga serta loi yang berarti melihat, dan satunya lagi dinamai sumber air Oemau. Oe adalah air yang digabung dengan nama Mau. Begitulah penemuan sumber mata air Tangga Loi dan Oemau.

Kisah Kopong dan Barek

Kopong dan Barek
Sumber: indosurvival.com

Kopong dan Barek hidup dalam kemisikinan bersama orang tuanya. Kemiskinan ini membuat orang tuanya ingin membuang Kopong dan Barek. Usaha untuk membuang kedua anaknya ternyata berhasil. Kopong dan Barek yang dibuang di hutan itu tak sengaja masuk ke rumah raksasa. Untungnya, dengan kecerdikan Kopong, mereka bisa kabur hingga tiba di suatu kerajaan.

Kedua kakak beradik itu tinggal cukup lama di kerajaan itu. Ketika sang raja sudah sepuh dan ingin menyerahkan tahtanya, diadakanlah sabung ayam di seluruh kerajaan itu untuk mendapatkan raja baru. Kopong ternyata memenangkan sayembara itu, maka jadilah dia raja yang baru. Setelah beberapa lama menjabat menjadi raja, dia teringat dengan ayah dan ibunya. Kopong lantas menyuruh orang untuk memboyong orang tuanya tinggal di kerajaan bersama dengan anak-anaknya lagi.

Legenda Raja Laku Leik

Raja Leik
Sumber: idntimes.com

Raja Laku Lekik terkenal sebagai raja yang serakah dan kejam di sebuah kerajaan di Belu, NTT. Dia bahkan rela memenggal kepala anak laki-lakinya sendiri. Namun, keajaiban terjadi pada anaknya, Ono Muti yang sebelumnya telah meninggal, ternyata bisa hidup kembali. Dia lantas tinggal di rumah bibinya yang baik hati merawat hingga Ono Muti dewasa.

Tiba di suatu masa, Raja Laku Lekik mengadakan sayembara sabung ayam. Datanglah Ono Muti yang sudah dewasa dan tidak dikenali oleh ayahnya sendiri. Dia melawan ayam dari Raja Laku Lekik dan berhasil memenangkan sayembara itu. Karena Laku Lekik telah mempertaruhkan seluruh hartanya, maka habislah semua harta itu, dia pun menjadi fakir miskin.

Asal Mula Kampung Wae Rebo

Kampung Wae Rebo
Sumber: yangrame.com

Munculnya kampung Wae Rebo dimulai dari Tanah Minang. Ada seroang pemuda bernama Maro yang memutuskan untuk merantau ke luar dari Minang hingga tiba di Flores. Dia terus saja berpindah-pindah kampung mulai dari kampung Todo, kampung Poppo, kampung Modo, kampung Ndara, dan Golo Damu.

Di Golo Damu, Maro menikah dengan Lembor. Di kampung ini Maro tinggal cukup lama hingga mendapat sebuah petunjuk agar Maro pindah ke sebuah kampung dan kampung itu harus diberi nama Wae Rebo. Maka, datanglah Maro ke sana, dia mulai kehidupan baru bersama istrinya dan sampai sekarang kampung tersebut dinamai sebagai kampung Wae Rebo.

Baca juga: 8 Legenda Bali

Dari 8 legenda NTT tadi, mana yang menurutmu paling menarik? Pastinya cerita di atas punya sisi uniknya sendiri-sendiri, bukan? Bahkan kamu juga bisa mengambil pelajaran yang ingin disampaikan dari legenda-legenda tadi. Disamping itu, kamu pastinya juga akan lebih mengenal kebudayaan yang berasal dari NTT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *