8 Legenda dari Bangka Belitung

Posted on

Seorang pemuda di suatu desa di Bangka Belitung merupakan ahli menyumpit sehingga dia pun dijuluki sebagai si Penyumpit. Semua warga desa menyukai si Penyumpit ini karena perangainya yang baik juga karena keahliannya, kecuali Pak Raje. Dikarenakan teringat hutang ayah si Penyumpit yang telah meninggal, pak Raje menyuruh si Penyumpit untuk menjaga sawahnya pada malam hari supaya dapat melunasi hutang ayahnya.

Tiba di malam hari, si Penyumpit melihat ada babi hutan yang bergerak mendekat ke sawah. Dia bersiap bersembunyi, lalu menyumpit si babi hutan itu. Ternyata, babi itu bukanlah babi biasa melainkan siluman babi. Merasa kasihan dengan apa yang menimpa siluman itu, si Penyumpit meminta maaf dan mengobati si babi hutan.

Sebagai ucapan terima kasih, si Penyumpit diberi empat buah macam rempah-rempah dan buah. Betapa kagetnya, saat dia membuka hadiah dari siluman tadi, semua rempah dan buah itu berubah menjadi emas dan berlian. Maka, dia pun melunasi hutang ayahnya dengan emas-emasan itu.

Saat tahu jika si Penyumpit mendapat emas dari siluman babi, malam harinya pak Raje malah berjaga di sawah. Saat pulang berjaga, dia justru ditemukan oleh putrinya terluka akibat diserang babi hutan. Si Penyumpit yang tahu akan hal ini segera mengobati pak Raje. Pak Raje merasa menyesal selama ini sudah membenci si Penyumpit. Dia pun meminta maaf atas kesalahannya.

Batu Balai

Batu Balai
Sumber: muntokvolunteers.wordpress.com

Hiduplah seorang ibu dan anaknya yang bernama Dempu Awang di desa Mentok. Mereka hidup dalam kondisi yang tidak beruntung sehingga membuat Dempu Awang ingin merantau ke tempat lain. Setelah meminta izin, Dempu Awang mulai berangkat ke perantauan. Ibunya terus mendoakan Dempu Awang agar sukses di rantau. Di sisi lain, Dempu Awang benar-benar sukses dan telah berkeluarga.

Saat istrinya mengajak untuk kembali pulang ke desa, Dempu Awang mengiyakan karena dia juga ingin bertemu ibunya. Sayangnya, saat mereka benar-benar bertemu justru sang ibu tidak diakui oleh Dempu Awang. Baginya, ibunya tidaklah jelek dan tua seperti itu. Hati setiap ibu pasti sangat kecewa dengan perlakuan anak yang seperti ini. Ibunya pun berharap agar Dempu Awang mendapat ganjaran yang setimpal.

Setelahnya, saat Dempu Awang berniat kembali berlayar dengan istrinya, terjadi badai yang membuat kapal mereka terpecah. Selepas badai berlalu, kapal itu berubah menjadi batu, sementara istri Dempu Awang menjadi seekor kera putih. Beberapa tahun kemudian, di samping batu itu terdapat sebuah kantor pemerintahan yang disebut dengan balai. Atas alasan ini batu tersebut disebut sebagai batu balai.

Tanjung Penyusuk

Tanjung Penyusuk
Sumber: ceritaanakdunia.com

Legenda ini terjadi di sebuah perkampungan di pulau Belinyu. Seorang raja dan ratu yang ada di kampung itu begitu sedih karena mereka tak kunjung dikarunai anak. Suatu malam, si istri bermimpi berbicara dengan seorang kakek yang memberikan petunjuk untuk memakan telur penyu sebanyak tujuh buah.

Esoknya, si ratu mengajak suaminya mencari penyu-penyu di laut. Mereka pun mengumpulkan telurnya dan si istri menggunakan telur itu untuk dimakan tiap malamnya. Tak lama, si istri mengandung dan melahirkan anak perempuan yang diberi nama Syahrani. Syahrani tumbuh menjadi gadis yang manja dan sangat menyusahkan orang tuanya. Setiap keinginanya harus dituruti dan jia tidak, dia akan merajuk.

Suatu ketika, dia pergi ke laut dan melihat ada satu penyu yang sangat unik. Syahrani terus memanggil penyu itu dengan sebutan penyu busuk. Dia mengejar penyu itu hingga sampai di tengah laut dan tak sadar jika dia akan tenggelam. Setelah kejadian tenggelamnya Syahrani, tanjung itu diberi nama oleh warga sebagai Tanjung Penyu Busuk atau sekarang lebih dikenal dengan Tanjung Penyusuk.

Si Kelingking

Si Kelingking
Sumber: youtube.com

Seorang anak lahir dari pasangan laki-laki dan perempuan yang sudah tua. Anak tersebut bertubuh sangat kecil seperti kelingking. Oleh karenanya, dia dipanggil sebagai si Kelingking. Hanya saja, ayah dan ibu Kelingking sangat tidak menyukai dengan adanya si Kelingkin mereka merasa malu dengan Kelingking.

Berbagai cara mereka lakukan untuk melenyapkan si Kelingking, termasuk mengajaknya ke sungai supaya ayahnya dapat menggelindikan batu besar ke arahnya. Sayangnya, cara tersebut masih belum terwujud. Ketika Kelingking bertanya tentang apa yang dilakukan oleh sang ayah, dia justru menjawab kalau batu itu digunakan untuk membuat pondasi rumah.

Sesampainya di rumah, si Kelingking justru yang memecah batu besar itu dan benar-benar menggunakannya untuk pondasi rumah baru mereka. Melihat kegigihan dari si Kelingking, ayah dan ibunya merasa tersentuh. Mereka tak lagi berniat untuk membunuh si Kelingking dan mulai menyayangi anaknya sepenuh hati.

Baca juga: Legenda Jakarta

Itulah legenda dari Bangka Belitung yang menyimpan banyak suri tauladan yang bisa kamu ambil sebagai pelajaran. Dari kedelapan legenda tadi, pastinya memiliki nilai moral dan sejarah yang sayang apabila tidak diketahui.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *