7 Legenda dari Aceh yang Harus Diketahui

Posted on

Malang nasib Banta, saat diperjalanan pulang barang itu dirampas pamannya yang terkenal pelit. Banta pun terbawa air kesalah satu pesisir pantai. Setelah di asuh beberapa bulan, Banta memohon izin pada keluarga angkatnya untuk kembali ke rumah. Permintaan itu disanggupi. Sesampai di rumah, sang ibu menatap Banta dengan penuh suka cita akhirnya anaknya kembali dengan keadaan sehat. Banta menceritakan semua kejadi tersebut. Namun sang ibu mengatakan hal itu tidak perlu dibahas lagi karena terlambat.

Baca juga: Tari Adat Aceh

Maka dengan cepat Banta berlari menyaksinan pernikahan mereka, Banta tidak punya cukup bukti sehingga hanya dapat berdoa. Tiba-tiba datanglah seekor burung elang yang mengatakan bahwa kain tenun emas dan suasa itu milik Banta. Sontak semua heran menatap heran. Sang paman merasa malu dan berusaha pergi melalui jendela. Sayang dia terhalang kakinya hingga terjatuh dari jendela dan tewas di tempat.

Setelah kejadian itu Banta dan ibunya menjadi keluarga kerajaan. Tidak lama kemudian sang ayah putri Terus Mata melimpahkan tahtanya kepada Banta karena dirinya kini telah menua.

Pangeran Amat Mude

Amat Mude
Sumber: wadaya.rey1024.com

Raja dan ratu negeri Alas sudah lama mendambakan keturunan, namun sangat sulit mendapatkannya. Hingga suatu hari sang putri merasa mual, setelah diperiksa tabib ternyata dirinya hamil. Seluruh kerajaan dan rakyat merasa gembira. Saat hari kelahiran tiba, sang raja mengundang seluruh makhluk seperti rakyat, hewan dan makhluk halus untuk turut merayakan kelahiran putranya yang diberi nama Amat Mude.

Saat Amat Mude berusia 10 tahun, sang raja meninggal dunia. Kerajaan bingung menggulirkan tahta kepada siapa, sementara anaknya masih belia. Hingga sang ratu menetapkan adik sang raja (paman Amat Mude) yang menjadi raja sementara. Sang paman terbuai atas tahta yang dimilikinya sehingga dia bertekad ingin menjadi raja selamanya. Maka sang paham memerintahkan para prajurit membuang ratu dan anaknya di hutan.

Di hutan mereka tinggal di gubuk, namun Amat Mude tidak pernah mengeluh. Dia bertugas mencari ikan. Tidak diduga saat sang ratu membersihkan tubuh ikan, dia selalu menemukan emas dalam tubuh ikan. Setiap hari Amat Mude mencari ikan dan terus menjual emasnya hingga mereka menjadi hidup berkecukupan dan dermawan. Mendengar kehidupan mereka yang sudah baik, sang paman memanggil Amat Mude ke kerajaan. Paman berkata bahwa jika Amat Mude berhasil memetik sebutir kelapa gading maka dia berhak menjadi raja, jika gagal gelar raja akan selamanya menjadi milik pamannya.

Amat Mude menyetujui dan segera bergegas ke pulau untuk mengambil kelapa gading. Saat ditengah perjalanan dirinya dihadang oleh ikan besar, naga dan buaya. Mereka bertanya siapakah orang yang berani melewati wilayahnya. Mereka terkejut bahwa pemuda dihadapannya adalah Amat Mude, bayi yang dulu disambut oleh seluruh makhluk termasuk 3 hewan tersebut. Berkat kebaikan hati ayahandanya, maka Amat Mude dibantu agar dapat menuju pulau dan diberi cincin yang bisa mengabulkan semua permintaan.

Sesampainya di pulau, Amat Mude bingung bagaimana caranya mengambil kelapa gading. Hingga dia teringat akan cincin pemberian ketiga hewan, dengan cepat dia bisikkan keinginannya. Tiba-tiba tubuhnya dengan mudah memanjat pohon dan memetik kelapa gading. Amat Mude lekas kembali ke kerajaan. Sang paman sangat heran melihat Amat Mude bisa kembali dengan selamat. Sesuai janjinya, kini Amet Muda diangkat menjadi raja.

Dia tidak pendendam, sang paman tetap diberi izin tinggal di kerajaan. Namun sang paman malu atas kelakukannya sehingga pergi dari kerajaan. Kini Amat Mude menjadi raja yang arif dan dermawan, persis seperti mendiang ayahandanya.

Sepasang Batu di Tepi Danau Laut Tawar

Sepasang Batu di Tepi Danau
Sumber: dongengceritarakyat.com

Pada zaman dahulu di Aceh tumbuhlah seorang gadis cantik. Parasnya yang anggun membuat semua orang ingin meminangnya, hingga akhirnya dia di persunting oleh salah satu pemuda. Setelah menikah, gadis itu diminta untuk kembali ke kampung suaminya di seberang lautan. Berat hatinya karena harus meninggalkan desa tercinta serta orang tua, namun walau bagaimanapun kini dia harus berbakti pada suaminya.

Sang gadis berpamitan pada kedua orang tuanya, ayahnya berpesan untuk tidak menoleh ke belakang saat diperjalanan pulang. Gadis itu harus melewati hutan belantara, mendakit bukit dan menyebrangi danau air tawar. Saat dirinya diatas kapal, terdengar suara ibunya memanggil. Dia dilema, harus menoleh menjawab panggilan ibunya atau tetap berpegang pada amanat sang ayah. Akhirnya dia memutuskan untuk menoleh, disaat yang bersamaan badannya mulai menjadi seperti batu. Hal itulah yang dikatakan sang ayah, bahwa dirinya akan berubah menjadi batu jika menengok ke belakang.

Baca juga: Rumah Adat Aceh

Suaminya tidak ikhlas melihat pasangannya berubah menjadi batu sehingga dirinya berdoa agar bisa menjadi batu seperti kekasihnya. Permintaan itu didengar oleh Tuhan sehingga tubuhnya berubah menjadi batu selayaknya sang istri.


Sumber:

Damayanti, Astri. (2010). Kumpulan Legenda Nusantara Favorit. Depok: Penerbit Indria Pustaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *