Akademi Etherion: Petualangan Seru di Dunia Sihir yang Penuh Misteri dan Pertarungan Epik!

Posted on

Pernah kebayang masuk ke akademi sihir yang bukan cuma ngajarin mantra biasa, tapi juga menyimpan rahasia besar tentang keseimbangan ruang dan waktu? Akademi Etherion adalah tempat di mana para penyihir muda ditempa dalam dunia penuh tantangan, pertarungan, dan takdir yang tak terduga.

Dari seleksi ketat, pertempuran melawan Aether Reapers, hingga munculnya kekuatan kuno bernama Chrono Arcana, cerita ini bakal bikin kamu terpaku sampai halaman terakhir! Penasaran gimana Kael Zephir menghadapi takdirnya dan melawan musuh dari dimensi lain? Yuk, ikuti kisah epik ini sampai tuntas!

Akademi Etherion

Gerbang Menuju Etherion

Kabut tipis menyelimuti perbukitan yang mengelilingi Akademi Etherion, seolah menjadi penghalang alami dari dunia luar. Bangunan megah dengan menara kristal berpendar ungu berdiri kokoh di tengah lapangan luas, dikelilingi oleh pohon-pohon Etherwood yang bercahaya samar. Di atas akademi, langit terlihat lebih luas daripada biasanya, dengan garis-garis cahaya yang berputar pelan seperti jalur bintang yang bergerak dalam dimensi berbeda.

Kael Zephir berdiri di depan gerbang raksasa yang terbuat dari logam hitam berukir simbol-simbol kuno. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena kegugupan yang tak bisa ia abaikan. Setelah bertahun-tahun berharap, akhirnya dia berhasil masuk ke Akademi Etherion.

Di sekelilingnya, ratusan murid baru berkumpul dengan ekspresi beragam—ada yang penuh semangat, ada yang tampak angkuh, dan ada pula yang tampak cemas seperti dirinya. Tak jauh dari sana, seorang gadis berambut perak dengan mata keemasan berdiri tenang, memperhatikan sekeliling dengan penuh kewaspadaan.

“Hei, kamu juga murid baru?” Kael memberanikan diri bertanya.

Gadis itu menoleh dengan tatapan tajam namun tidak bermusuhan. “Jelas. Kalau bukan, ngapain aku di sini?”

Kael tertawa kecil, merasa jawabannya cukup masuk akal. “Namaku Kael. Kamu?”

“Iris. Iris Valtheria.”

Sebelum mereka sempat berbicara lebih lanjut, dentuman keras menggema di seluruh area. Gerbang Etherion mulai terbuka perlahan, memperlihatkan halaman dalam akademi yang lebih megah daripada yang bisa mereka bayangkan. Pilar-pilar raksasa berdiri di sepanjang koridor utama, dengan kristal-kristal melayang di udara, membentuk jalur cahaya yang mengarah ke pusat akademi.

Sebuah suara bergema di udara, berasal dari seorang pria berjubah panjang yang berdiri di atas balkon utama.

“Selamat datang, para calon penyihir Etherion! Aku adalah Profesor Aldric Vael, kepala akademi ini. Mulai saat ini, kalian akan memasuki dunia sihir yang sesungguhnya. Tapi ingat… Etherion bukan tempat bagi mereka yang hanya ingin belajar sihir biasa. Ini adalah tempat bagi mereka yang berani melangkah ke dimensi lain, menantang batas realitas, dan mempertaruhkan segalanya demi ilmu pengetahuan.”

Suara Aldric dipenuhi wibawa. Setiap kata yang keluar darinya seperti memiliki gravitasi sendiri, menekan dada setiap murid yang mendengarnya.

“Saat ini, kalian akan menjalani Seleksi Arcana, ujian pertama yang akan menentukan di mana posisi kalian di dalam akademi ini.”

Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar di antara para murid. Beberapa terlihat percaya diri, sementara yang lain tampak tegang.

Kael mengerutkan kening. “Seleksi? Aku kira kita sudah diterima…”

Iris melipat tangan. “Etherion tidak pernah menerima murid tanpa menguji mereka terlebih dahulu. Ujian masuk hanyalah permulaan.”

Mendadak, suara tawa berat terdengar dari belakang mereka. Seorang pemuda bertubuh tinggi dengan rambut hitam panjang berjalan mendekat, menepuk bahu Kael dengan cukup keras hingga ia sedikit terhuyung.

“Kamu ini lugu banget, ya?” katanya sambil terkekeh. “Nama aku Raghnar Volkstein. Dengar-dengar, kamu punya sihir langka. Jangan sampai mati konyol di ujian pertama.”

Kael menatapnya tajam. “Aku nggak akan mati semudah itu.”

Raghnar menyeringai. “Kita lihat nanti.”

Tanpa peringatan, tanah di bawah mereka mulai bergetar. Sebuah lingkaran sihir raksasa terbentuk di bawah kaki para murid, memancarkan cahaya biru yang menyilaukan. Detik berikutnya, tubuh mereka ditarik ke dalam pusaran energi yang terasa seperti menembus ruang dan waktu.

Arena Seleksi Arcana

Saat Kael membuka matanya, ia mendapati dirinya berdiri di tengah arena luas yang tampak seperti dataran asing. Langit di atasnya berwarna ungu tua dengan bintang-bintang yang bergerak secara acak, sementara tanah di bawahnya seolah mengambang di atas kehampaan.

Di depannya, puluhan makhluk berbentuk bayangan dengan mata merah berdiri diam. Tubuh mereka samar-samar seperti kabut, tetapi aura mereka terasa menekan.

Dari kejauhan, suara Profesor Aldric terdengar lagi.

“Selamat datang di Arena Seleksi Arcana. Ujian kalian sederhana—kalau kalian ingin bertahan di Etherion, kalian harus bisa mengalahkan Voidwalkers di depan kalian. Bertahanlah selama sepuluh menit, atau tersingkir dari akademi.”

Kael menghela napas panjang. Ini bukan sekadar tes biasa. Ini adalah pertempuran sesungguhnya.

Iris berdiri di sampingnya, mengangkat tangannya. Dalam sekejap, udara di sekitar mereka bergetar, dan sebuah lingkaran sihir muncul di bawah kakinya. “Baiklah, Kael, aku harap kamu nggak cuma bisa bicara.”

Kael mengepalkan tangannya, merasakan energi Chrono Arcana mulai berdenyut di dalam tubuhnya.

“Jangan khawatir,” katanya, menatap Voidwalkers yang mulai bergerak mendekat. “Aku akan membuktikan kalau aku pantas ada di sini.”

Dan pertempuran pun dimulai.

Rahasia di Balik Dimensi

Kilatan cahaya berpendar di udara saat Kael melompat ke samping, menghindari cakar tajam salah satu Voidwalker yang mencoba menerkamnya. Makhluk itu mengeluarkan suara mendesis, tubuhnya yang menyerupai kabut gelap bergerak seperti bayangan hidup.

Di sekelilingnya, puluhan murid lain bertarung mati-matian. Beberapa sudah tumbang dan tubuh mereka diselimuti cahaya biru, menandakan bahwa sistem akademi telah mengeluarkan mereka dari arena. Hanya yang kuat yang akan bertahan di Etherion—itulah yang dikatakan Profesor Aldric sebelum ujian dimulai.

Di sisi lain, Iris dengan tenang membentuk lingkaran sihir di udara. “Chrono Bind.”

Voidwalkers di depannya tiba-tiba membeku, seolah waktu di sekitar mereka berhenti. Ia kemudian menggerakkan jarinya, dan dalam sekejap, tubuh makhluk-makhluk itu hancur seperti kaca yang pecah.

Raghnar tertawa keras sambil mengayunkan pedang raksasanya, Inferna Rex, yang membara dengan api merah kehitaman. Dengan sekali tebas, ia merobek lima Voidwalkers sekaligus, meninggalkan jejak api yang membakar udara.

Kael mengatupkan rahangnya. Ia tahu ia harus mulai serius. Ia mengangkat tangannya dan merasakan denyutan energi Chrono Arcana di dalam tubuhnya. Namun, sebelum ia bisa mengaktifkan sihirnya, tiba-tiba…

“Sistem Anomali Terdeteksi.”

Suara itu bergema di seluruh arena, membuat semua orang terdiam.

Profesor Aldric, yang mengamati ujian dari kejauhan, tiba-tiba mengerutkan kening. “Tidak mungkin… Ini bukan bagian dari ujian.”

Tiba-tiba, arena mulai bergetar. Tanah di bawah mereka retak, dan dari celah-celahnya muncul cahaya berwarna ungu tua yang berputar seperti pusaran. Kael merasakan sesuatu yang aneh—energinya tiba-tiba beresonansi dengan kekuatan yang muncul dari dalam celah itu.

“Kael!” Iris berteriak. “Ada sesuatu yang nggak beres! Aku bisa merasakan gangguan dalam struktur dimensi di sini!”

Sebelum mereka bisa bereaksi, sebuah tangan raksasa keluar dari celah dimensi. Tangan itu terlihat seperti kabut pekat dengan pola rune bercahaya di permukaannya. Dengan gerakan cepat, ia menyapu beberapa murid yang masih bertarung, membuat mereka tersedot ke dalam kehampaan.

“Apa itu?!” Raghnar melangkah mundur, untuk pertama kalinya tampak waspada.

Profesor Aldric segera mengangkat tangannya, membentuk simbol sihir di udara. Namun, sebelum ia bisa bertindak lebih jauh, sosok berjubah hitam muncul dari dalam celah dimensi. Wajahnya tertutup tudung, tetapi mata merahnya bersinar seperti bara api.

“Akhirnya… aku menemukannya,” suara sosok itu terdengar dalam, hampir seperti gaung dari dalam kehampaan. “Pewaris Chrono Arcana.”

Kael merasakan tubuhnya menegang. Orang itu sedang berbicara tentang dirinya.

Sosok itu mengangkat tangannya dan tiba-tiba, energi di sekitar Kael seakan terkunci. Rasanya seperti ada kekuatan tak terlihat yang menekan tubuhnya, menahannya di tempat.

Iris melompat ke depan. “Kael! Bertahanlah!” Ia segera melemparkan mantra, tetapi sebelum sihirnya bisa mencapai target, sosok berjubah itu hanya mengayunkan tangannya sedikit—dan waktu di sekitar Iris tiba-tiba melambat.

“Apa?!” Iris mencoba bergerak, tetapi tubuhnya terasa berat, seakan ia terperangkap dalam arus waktu yang melambat.

Raghnar menggeram, mengayunkan Inferna Rex, tetapi serangannya menembus udara kosong—sosok itu menghilang dalam sekejap dan muncul tepat di depan Kael.

“Chrono Arcana… sebuah kekuatan yang seharusnya tidak ada di dunia ini,” sosok itu berbisik. “Dan kamu… kamu belum layak memilikinya.”

Tiba-tiba, telapak tangannya menyentuh dada Kael, dan dalam sekejap, Kael merasakan sesuatu yang mengerikan. Energinya terkuras, seolah ditarik paksa keluar dari tubuhnya. Tubuhnya bergetar, rasa sakit menjalar ke seluruh sarafnya.

“TIDAK!” Iris berteriak, memaksa tubuhnya untuk bergerak meski waktu di sekelilingnya masih melambat.

Kael jatuh berlutut, napasnya tersengal. Pandangannya mulai kabur, tetapi ia bisa merasakan sesuatu—bukan hanya tubuhnya yang melemah, tetapi kesadarannya mulai tertarik ke tempat lain.

Di dalam pikirannya, ia melihat bayangan samar-samar. Sebuah menara tinggi berdiri di tengah kehampaan, dengan lingkaran sihir yang terus berputar di atasnya. Ada suara yang berbisik dalam benaknya, suara yang tidak ia kenali tetapi terasa familiar.

“Kael Zephir… kunci dari keseimbangan dimensi…”

Dan tiba-tiba, energi di dalam tubuhnya meledak.

Sebuah gelombang kekuatan luar biasa terpancar dari tubuhnya, menghantam sosok berjubah itu dengan kekuatan yang cukup untuk melemparkannya kembali ke dalam celah dimensi. Suara ledakan menggelegar di seluruh arena, membuat tanah berguncang hebat.

Cahaya biru tua menyelimuti tubuh Kael saat Chrono Arcana di dalam dirinya aktif dengan sendirinya. Simbol-simbol kuno berpendar di sepanjang lengannya, mengeluarkan kilatan energi yang terasa seperti pusaran waktu yang liar.

Sosok berjubah itu menatapnya dengan ekspresi terkejut. “Ternyata… segel itu belum sepenuhnya aktif.”

Sebelum ia bisa melakukan sesuatu, celah dimensi di belakangnya mulai menutup dengan cepat.

“Kita akan bertemu lagi, Pewaris Chrono Arcana.”

Dengan kata-kata itu, sosok itu tersedot ke dalam kehampaan, dan celah dimensi menutup dengan suara gemuruh yang mengguncang udara.

Kael jatuh ke tanah, tubuhnya terasa lemas. Napasnya masih tersengal, sementara tubuhnya terasa panas seperti terbakar dari dalam.

Iris dan Raghnar segera menghampirinya.

“Kamu baik-baik aja?!” Iris berlutut di sampingnya, ekspresi wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang jarang terlihat.

Kael hanya bisa mengangguk lemah.

Profesor Aldric akhirnya turun ke arena, wajahnya tampak serius. Ia menatap Kael dalam-dalam sebelum berbicara dengan suara berat.

“Ujian ini sudah selesai. Tapi kalian harus tahu satu hal…”

Semua murid yang tersisa diam, menunggu kata-katanya.

“Apa yang terjadi hari ini bukan sekadar gangguan biasa. Ada sesuatu… atau seseorang… yang mengincar kekuatan yang ada di akademi ini.”

Ia menatap Kael sekali lagi.

“Dan kamu… adalah pusat dari semuanya.”

Kael menggenggam tanah di bawahnya, merasakan sisa energi yang masih berdenyut di tubuhnya.

Tanpa ia sadari, kehidupannya di Etherion baru saja berubah selamanya.

Serangan Aether Reapers

Suasana di Akademi Etherion tidak lagi sama setelah insiden di Seleksi Arcana. Para murid mulai berbisik tentang Kael Zephir, menyebutnya sebagai Pewaris Chrono Arcana, meskipun ia sendiri masih belum sepenuhnya memahami apa artinya. Namun, satu hal yang pasti—ia telah menarik perhatian sesuatu yang berada di luar kendali akademi.

Malam itu, langit di atas Etherion tampak aneh. Cahaya bintang yang biasanya bersinar terang tampak berputar pelan, seolah ada sesuatu yang mengganggu keseimbangan ruang dan waktu.

Kael berdiri di balkon kamarnya, memandang ke langit dengan pikiran yang bercampur aduk. Pikirannya masih dipenuhi bayangan sosok berjubah hitam dari ujian kemarin. Kata-kata yang diucapkan orang itu terngiang kembali di benaknya.

“Chrono Arcana… kekuatan yang seharusnya tidak ada di dunia ini.”

Kael mengepalkan tangannya. Jika kekuatan itu memang tidak seharusnya ada, lalu mengapa ia memilikinya?

Tiba-tiba, suara ketukan terdengar di pintunya.

“Kael, buka,” suara Iris terdengar dari balik pintu.

Kael menghela napas sebelum membukanya. Iris berdiri di sana, wajahnya tampak serius. Di belakangnya, Raghnar menyandarkan diri ke dinding dengan ekspresi malas, tetapi matanya mengawasi sekitar.

“Kita harus bicara,” kata Iris, tanpa basa-basi.

Kael mengangguk dan membiarkan mereka masuk.

“Apa ada perkembangan baru?” tanyanya, menutup pintu di belakang mereka.

Iris bersedekap. “Profesor Aldric sedang mengumpulkan informasi tentang makhluk yang muncul saat ujian. Tapi ada satu hal yang aneh…”

Kael mengangkat alis. “Apa?”

“Celah dimensi yang muncul… bukan berasal dari akademi. Itu bukan bagian dari sistem ujian.”

Kael merasakan bulu kuduknya meremang. “Maksudmu ada seseorang yang membukanya dari luar?”

Iris mengangguk. “Dan itu bukan sembarang sihir. Itu sihir kuno—sesuatu yang bahkan akademi ini belum tentu bisa kendalikan.”

Raghnar, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. “Intinya, kita dalam masalah besar.”

Belum sempat Kael mencerna semua itu, tiba-tiba—

DUUUM!

Ledakan besar mengguncang seluruh akademi. Tanah bergetar hebat, dan suara alarm sihir terdengar dari menara utama.

Ketiganya langsung berlari ke jendela. Dari kejauhan, mereka bisa melihat siluet hitam raksasa muncul dari dalam hutan yang mengelilingi akademi. Makhluk-makhluk itu berbentuk kabut pekat, tetapi memiliki mata biru menyala yang berkilat tajam.

Iris menatap Kael dengan ekspresi ngeri. “Tidak mungkin… Aether Reapers.”

Kael belum pernah mendengar nama itu sebelumnya, tetapi dari ekspresi Iris dan Raghnar, ia tahu itu bukan hal yang bagus.

“Kita harus ke menara utama,” kata Raghnar. “Sekarang juga.”

Mereka bertiga segera berlari keluar kamar dan menuju ke halaman akademi, di mana ratusan murid lainnya sudah berkumpul, sebagian dalam keadaan panik. Profesor Aldric berdiri di depan mereka, tongkat sihirnya memancarkan cahaya biru terang.

“Dengar baik-baik!” suaranya menggema di seluruh area. “Etherion sedang diserang oleh makhluk dari Dimensi Aether! Para Aether Reapers tidak boleh menembus Barrier Celestial, atau seluruh akademi akan hancur!”

Kael menoleh ke Iris dengan ekspresi bertanya.

Iris berbicara cepat, suaranya sedikit bergetar. “Aether Reapers adalah makhluk dari dimensi antara dunia nyata dan kehampaan. Mereka tidak bisa dibunuh dengan sihir biasa—hanya Arcana tingkat tinggi yang bisa menghancurkan mereka.”

Raghnar mengeluarkan pedangnya. “Kalau begitu, kita harus menghentikan mereka sebelum mereka sampai ke sini.”

Profesor Aldric melanjutkan. “Seluruh murid tingkat atas akan menjaga barisan depan! Murid tingkat bawah—tetap di dalam akademi! Ini bukan pertempuran yang bisa dimenangkan dengan sihir dasar!”

Kael mengepalkan tangannya. Ia mungkin baru di akademi ini, tapi ia bukan tipe orang yang hanya diam menonton.

Namun sebelum ia bisa melangkah, sosok lain tiba-tiba muncul di langit.

Sebuah portal dimensi terbuka, dan dari dalamnya muncul sosok yang sangat familiar—sosok berjubah hitam dari ujian kemarin.

“Kael Zephir,” suaranya terdengar jelas, meski berada jauh di atas mereka. “Waktunya sudah tiba. Chrono Arcana harus kembali ke pemiliknya yang sah.”

Kael merasakan tubuhnya menegang.

Iris berdiri di sampingnya. “Kael… kita tidak bisa membiarkan dia menang.”

Tanpa peringatan, Aether Reapers pertama menerobos pertahanan dan melesat ke arah mereka dengan kecepatan mengerikan.

Kael tahu… ini adalah awal dari perang yang sebenarnya.

Warisan Chrono Arcana

Aether Reapers menyerbu dari segala arah. Langit di atas Etherion berubah gelap, tertutup pusaran dimensi yang terus berputar. Cahaya biru dari Barrier Celestial mulai meredup—pertahanan akademi tidak akan bertahan lama.

Kael berdiri di antara murid-murid yang bersiap bertarung. Napasnya memburu, matanya terkunci pada sosok berjubah hitam yang masih mengambang di langit.

“Kamu nggak akan bisa mengambil kekuatan Kael!” teriak Iris, menyiapkan lingkaran sihirnya.

Sosok berjubah itu menghela napas pelan. “Aku tidak perlu bertarung dengan kalian. Pewaris Chrono Arcana akan menyerahkan dirinya sendiri… atau akademi ini akan musnah.”

Kael mengepalkan tangannya. Ia tahu ia tidak bisa membiarkan orang ini menang, tetapi ia juga tidak bisa membiarkan teman-temannya mati sia-sia.

Sementara itu, Raghnar mengayunkan Inferna Rex, menciptakan ledakan api yang membakar beberapa Aether Reapers. “Kael! Apapun yang mau kamu lakukan, lakukan sekarang! Kita nggak bisa menahan ini lebih lama lagi!”

Kael menutup matanya sejenak. Ia merasakan energi Chrono Arcana di dalam dirinya—denyutannya semakin kuat, semakin nyata. Seolah kekuatan itu mulai bangkit dengan sendirinya.

Sosok berjubah itu mengangkat tangannya, menciptakan bola energi hitam yang berputar liar. “Kamu terlalu lambat.”

Ia melemparkan bola itu ke arah akademi.

TIDAK!” Iris berteriak, mencoba menciptakan penghalang, tapi bola energi itu terlalu cepat.

Saat itu juga, waktu seakan berhenti.

Kael membuka matanya—pupilnya bersinar dengan cahaya biru terang. Dunia di sekelilingnya membeku. Murid-murid, profesor, Aether Reapers, bahkan sosok berjubah hitam itu… semuanya berhenti bergerak.

Ia bisa mendengar suara dalam kepalanya.

“Chrono Arcana… bukan hanya kekuatan untuk mengontrol waktu. Ini adalah keseimbangan. Jika jatuh ke tangan yang salah, dunia akan hancur.”

Kael mengangkat tangannya. Ia bisa melihat jalur waktu bercabang di hadapannya—kemungkinan-kemungkinan masa depan yang bisa ia pilih.

Dalam satu gerakan cepat, ia meraih salah satu cabang waktu dan menariknya kembali ke realitas.

BOOOM!

Dunia kembali bergerak, tapi sesuatu telah berubah. Bola energi yang dilemparkan oleh sosok berjubah itu berbalik arah—seolah waktu berjalan mundur—dan menghantam penciptanya sendiri.

APA—?!

Ledakan besar terjadi di langit. Sosok berjubah itu berteriak kesakitan sebelum tubuhnya tersedot kembali ke dalam pusaran dimensi.

Aether Reapers yang tersisa mulai menghilang satu per satu, seolah mereka tidak pernah ada di tempat itu.

Kael jatuh berlutut, napasnya tersengal. Energi Chrono Arcana di dalam dirinya perlahan mereda.

Iris berlari menghampirinya. “Kael! Kamu nggak apa-apa?!”

Kael mengangguk lemah. “Aku… aku berhasil.”

Raghnar menepuk pundaknya keras. “Hah! Aku nggak tahu gimana caranya kamu ngelakuin itu, tapi itu luar biasa.”

Profesor Aldric mendekati mereka, ekspresinya penuh kebanggaan sekaligus kekhawatiran. “Kael… kamu baru saja membuktikan bahwa kamu memang Pewaris Chrono Arcana yang sebenarnya.”

Kael menatapnya, masih berusaha mengatur napas. “Tapi aku masih nggak ngerti… kenapa aku punya kekuatan ini?”

Profesor Aldric tersenyum samar. “Itu… adalah sesuatu yang harus kamu cari tahu sendiri.”

Kael menatap langit yang kembali cerah. Ia tahu pertempuran ini baru awal dari segalanya. Tapi satu hal yang pasti—ia tidak akan membiarkan kekuatan ini jatuh ke tangan yang salah.

Dan dengan begitu, era baru di Akademi Etherion pun dimulai.

Petualangan Kael Zephir di Akademi Etherion bukan sekadar perjalanan seorang penyihir biasa. Dari ujian seleksi yang menegangkan, serangan makhluk dimensi lain, hingga kebangkitan kekuatan Chrono Arcana, setiap babnya dipenuhi aksi seru dan misteri yang bikin nagih!

Tapi satu hal yang pasti, dunia sihir selalu menyimpan rahasia yang lebih besar dari yang terlihat. Apakah Kael benar-benar sudah memahami takdirnya, atau justru ini baru permulaan? Jangan sampai ketinggalan cerita seru lainnya—karena di dunia sihir, kemungkinan tak pernah ada habisnya!

Leave a Reply