5 Legenda di Jawa Timur, Apakah Kamu Tau Salah Satunya?

Posted on

Ternyata, diam-diam para selir dari Minakjingga mengobati Damarwulan karena tertarik dengan ketampanan dan kegagahan dari Damarwulan. Setelah pulih, mereka memberi tau kelemahan dari Minakjingga ialah gadanya. Minakjingga tidak bisa apa-apa tanpa gadanya.

Kedua selir itu pun membantu dalam mengambil gada itu, dan membebaskan Damarwulan. Untuk kedua kalinya Damarwulan menantang Minakjingga, namun kali ini Damarwulan dapat mengalahkan Minakjingga karena gadanya itu.

Berhasil memenggal kepala Minakjingga, di tengah perjalanan menuju Majapahit, kepala itu dirampas dari tangan Damarwulan oleh Layang Seta dan Layang Kumitir. Mereka tiba-tiba datang dan mengaku bahwa mereka yang memenggal kepala Minakjingga.

Hingga terjadi pertengkaran antara mereka bertiga, dan Damarwulan dapat mengalahkan mereka berdua karna memang mereka hanya berusaha menipu sang Ratu. Damarwulan pun menikah dengan sang Ratu sedangkan Layang Seta dan Kumitir dimasukkan ke dalam penjara.

4. Legenda Jaka Seger dan Rara Anteng

Kisah ini datang dari sebuah desa dekat gunung bromo. Suatu hari, lahir bayi perempuan bernama Rara Anteng dari seorang mantan Raja Majapahit yang mengasingkan diri, dan bayi laki-laki bernama Jaka Seger dari sepasang pendeta.

Rara tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita hingga kecantikannya menyebar keseluruh penjuru desa. Banyak laki-laki yang berusaha meminangnya tapi semua ditolak karena Rara memiliki hubungan cinta dengan Jaka Seger.

Tak sadar, kabar kecantikan Rara sampai ke telinga seorang raksasa yang kejam dan sakti. Dia berusaha memimang Rara, namun Rara memberi syarat agar dibuatkan sebuah danau di atas gunung bromo dalam waktu satu malam.

Dengan kesaktiannya, raksasa itu hampir berhasil membuat danaunya, tapi Rara meminta pertolongan keluarga dan tetangga untuk membuat suasana seolah-olah sudah datang pagi hari.

Menyadari datangnya pagi, raksasa itu menghentikan pekerjaannya dan melemparkan batok kelapa yang sangat besar yang ia pakai untuk mengeruk tanah gunung bromo. Yang sekarang menjelma sebagai bukit batok di Jawa Tengah. Danau yang dibuat raksasa itu pun sekarang menjadi kawah di gunung bromo.

Setelah itu, Rara menikah dengan Jaka. Dengan pernikahan tersebut mereka tak kunjung memiliki seorang anak. Hingga suatu hari Jaka bernazar jika ia dikaruniai 25 anak, ia akan mempersembahkan seorang anaknya pada gunung bromo yang dijadikan sebagai sesajen.

Setelah bernazar tiba-tiba muncul api dari kawah gunung bromo. Tak berselang lama, Rara pun hamil dan setiap tahunnya Rara melahirkan anak kembar 2 bahkan 3 hingga ia memiliki 25 orang anak.

Kebahagiaan meliputi keluarga Jaka dan Rara, Dewa Kusuma yang merupakan anak bungsu, ia adalah anak yang paling disayangi oleh Jaka. Hingga suatu hari Jaka bermimpi ditagih atas janjinya itu.

Ia pun berkumpul dengan keluarganya, dan dari 25 anaknya, Dewa Kusuma lah yang bersedia memenuhi nazar sang ayah dengan syarat ia ingin diceburkan di dalam kawah bromo pada tanggal 14 ke 24 saudaranya harus memberi hasil panen yang didapat.

Hingga tepatlah tanggal 14 Kasada satu keluarga itu menceburkan Dewa Kusuma diiringi dengan isak tangis. Hingga sekarang ritual itu tetap dijalankan untuk menghormati pesan Dewa Kusuma. Upacara tersebut kini dikenal dengan Yadnya Kasada.

Baca juga : Tempat Angker di Bandung

5. Kisah Jaka Budug dan Putri Kemuning

Kisah yang terakhir ini datang dari daerah Ngawi, Jawa Timur. Legenda yang mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Jaka Budug, ia dipanggil seperti itu karena mengidap penyakit budug atau kudis.

Jaka Budug adalah seorang pemuda yatim piatu nan miskin. Walaupun dengan keadaan seperti itu, ia berhasil meminang seorang putri raja bernama Putri Kemuning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *